Ribuan Umat Hindu Ikuti Tawur Agung di Candi Prambanan
Kamis, 10 Mar 2005 09:00 WIB
Yogyakarta -
Ribuan umat Hindu se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) Kamis (10/3/2005) mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga di pelataran Candi Prambanan. Upacara Bhuta Yadnya atau Tawur Kesanga ini merupakan rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi 1927 Caka dengan tujuan untuk menebalkan tekad dalam menjaga dan melestarikan keharmonisan alam seisinya.Berdasarkan pantauan detikcom, sejak pukul 07.00 WIB, umat Hindu dari berbagai daerah Jateng dan DIY telah berdatangan ke lokasi upacara yang mengambil tempat di sebelah selatan Candi Prambanan.Resi Gunawan kepada detikcom di sela-sela persiapan prosesi mengatakan, sebelum dilakukan prosesi pemujaan Tawur Agung Kesangga, mulai pukul 09.00 WIB dilakukan prosesi mendak tirta (memohon air suci) di Gelung Kori Candi Brahma, Wisnu, dan Siwa yang ada di kompleks Candi Prambanan. Pemujaan Tawur Agung Kesanga pada pukul 10.30 akan dipimpin Begawan Putra Manuaba didampingi Resi Gunawan Putra Keniten dan Begawan Istri Agung Gayatri.Setelah itu dilakukan upacara sembahyang bersama akan dilakukan pula Muspa dilakukan meditasi untuk mendoakan bangsa dan Negara serta individu umat masing-masing. Selanjutnya puluhan wasi atau pandita memercikkan tirta pada umat."Tawur agung kesanga ini berarti mewisuda bumi atau membersihkan jagad dari segala kekotoran," katanya.Upaya untuk membersihkan itu, kata Gunawan, telah dilakukan upacara Melasti di pantai Ngobaran Gunung Kidul dan Parangkusumo beberapa waktu lalu untuk membersihan buwana agung (alam semesta) dan buwana alit (diri manusia sendiri)."Lewat prosesi melasti itu, umat Hindu membersihkan negara dari segala kotoran, baik yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, maupun perbuatan," tutur Gunawan.Pada hari Nyepi Jumat besok kata Gunawan, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api (amati geni), tidak melaksanakan aktivitas kerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan) dan tidak mendengarkan atau membunyikan bunyi-bunyian atau hiburan (amati lelanguan)."Tujuannya agar semua umat Hindu wajib menjalankan renungan suci, introspeksi diri terhadap kehidupan di masa lalu dan memantapkan untuk mencapai keseimbangan jiwa dalam mengisi kehidupan ke depan," katanya.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































