Wali Kota Jakut: Daeng Aziz Bukan Tokoh Masyarakat Kalijodo

Wali Kota Jakut: Daeng Aziz Bukan Tokoh Masyarakat Kalijodo

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 17 Feb 2016 06:55 WIB
Wali Kota Jakut: Daeng Aziz Bukan Tokoh Masyarakat Kalijodo
Daeng Aziz (Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Jakarta - Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi, menyebut Daeng Aziz bukan tokoh masyarakat di Kalijodo, Jakarta Utara. Menurutnya Daeng Aziz adalah salah satu pemilik usaha di kawasan yang terkenal dengan lokalisasi prostitusi dan judi itu.

"Dia itu sebenarnya bukan tokoh masyarakat. Daeng Aziz itu pemilik cafe sekaligus yang mengkoordinasikan keamanan, mengkoordinasikan tempat-tempat hiburan yang menyajikan cafe-cafe, rumah-rumah bordil. Rumah bordilnya yang akan ditutup," kata Rustam saat dihubungi detikcom lewat telepon, Selasa (16/2/2016).

(Baca juga: Kombes Krishna: Daeng Aziz Punya Kafe di Kalijodo)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rustam menyebutkan peran Daeng Aziz sebagai koordinator keamanan dan tempat hiburan di Kalijodo. Namun dia menampik bila Daeng Aziz disebut sebagai preman di kawasan tersebut.

"Bukan preman tapi dia mengkoordinir yang seperti itu," katanya.

Daeng Aziz sering dikaitkan dengan isu sebagai penguasa Kalijodo. Namun dia menyebut dirinya sebagai tokoh Kalijodo. Dalam kesempatan wawancara, dia juga menjelaskan bahwa dirinya yang mengatur di kawasan Kalijodo.

(Baca juga: Lulung Ceritakan Sebab Daeng Aziz Cari Dirinya Minta Perlindungan)


Soal perannya menjadi suplier minuman banyak pihak menyebut omzetnya miliaran rupiah. Pria asal Makassar ini mempersilakan bila ada yang menuduhnya seperti itu.

"Wah, ini berat banget saya jawabnya yah. Kalau memang ada yang bilang bahwa saya ini pemasok minuman, lalu mendapatkan omzet setiap malam sampai, berapa tadi? (wartawan menyebut miliaran-red) Saya bersyukur sekali," jawab Daeng Aziz, Selasa (16/2/2016).

(Baca juga: Kombes Krishna Beri Imbauan ke Daeng Aziz: Kalau Melawan Kami Tindak Tegas!)

"Artinya, kita berbicara tentang apa yang namanya, kita bicara ini sesuai dengan prinsip hakiki. Itu kalau ada yang menyebut seperti itu, boleh-boleh saja. Tapi kalau untuk membenarkan, jangan-jangan dulu. Saya yang lebih tahu," tegas dia. (hri/hri)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini