Kisah Pedagang Roti di Nunukan yang Selalu Belanja Bahan Baku ke Malaysia

Kisah Pedagang Roti di Nunukan yang Selalu Belanja Bahan Baku ke Malaysia

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 16 Feb 2016 17:57 WIB
Kisah Pedagang Roti di Nunukan yang Selalu Belanja Bahan Baku ke Malaysia
Foto: Yulida Medistiara
Nunukan, - Kesenjangan sosial di kawasan perbatasan banyak menjadi sorotan. Di Nunukan, Kalimantan Utara, ada warga yang hampir selalu membeli bahan pokok ke negeri tetangga: Malaysia. Semata-mata karena faktor ekonomi.

Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang harus ditempuh menggunakan pesawat kecil dari kota Tarakan selama 20 menit atau menggunakan perahu speedboat selama 2,5 jam. Sedangkan untuk ke Tawau, Malaysia cukup memakan waktu 45 menit dari Nunukan.

Seorang pedagang roti di Nunukan bernama Jamaludin (48)Β  berbelanja bahan baku untuk tokonya di Malaysia karena lebih murah dan dekat. Ia membeli bahan baku pembuatan roti seperti tepung di kota Tawau Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya tepung, Jamaludin juga sering membeli sembako di Tawau karena pemerintah Malaysia menyediakan barang-barang bersubsidi untuk warganya yang berada di perbatasan. Ia mencontohkan, ketika harga gula dari pulau Jawa seharga 15 ribu, sedangkan harga gula di Tawau sekitar 10 ribu rupiah.

"Saya kan jual roti. Rotinya bikin sendiri di toko pakai oven, tapi kan bahan-bahannya kaya tepung itu beli di Malaysia lebih murah dan dekat. Kalau dilarang ya gimana ekonomi kita gak maju-maju dong," kata Jamaludin ditemui di Nunukan, Kalimantan Utara, Selasa (16/2/2016).

Ia mengakui memang kualitas gula milik Indonesia lebih manis. Namun, tetap saja warga memilih harga yang lebih murah.

"Memang kalau disejajarkan secara kasat mata gula Indonesia dan Malaysia beda. Gula Indonesia cuma beberapa sendok sudah manis, tapi kan orang lebih milih harga yang lebih murah," tutur Jamaludin.

Ia menaiki speedboat yang menjadi transportasi umum di Nunukan untuk bisa sampai ke Tawau. Saat memasuki Tawau, menurut pengakuan Jamaludin, cukup meminta izin melintas ke petugas untuk berbelanja dan petugas pun mengizinkannya. Tak perlu adegan mengendap-endap.

"Tidak usah kucing-kucingan, biasanya izin saja ke penjaganya. Kalau TKI ilegal mungkin iya masuk kucing-kucingan," ujarnya.

Menurut Jamaludin, di Nunukan banyak warga yang memakai mata uang ringgit ketika bertransaksi. Hal itu bisa disesuaikan dengan kurs mata uang ringgit, di mana satu ringgitnya sekitar Rp 3000-an

"Banyak di sini yang pakai mata uang Ringgit, Dolar di sini gak laku, Euro juga. Ya mau gimana lagi, namanya juga perbatasan. Gak bisa dia ngelarang-larang orang pakai Ringgit. Kalau orang mau transaksi jual-beli di toko juga bisa, di mana saja bisa di Nunukan sini namanya juga perbatasan," kata Jamaludin.

Tinggal di daerah perbatasan, menurut Jamaludin, sering terkendala sinyal komunikasi dan listrik. Matinya listrik berimbas langsung kepada usaha roti miliknya.

"Kemarin itu mati listrik sampai 4 hari, dua hari ini baru bagus listriknya. Saya tidak bisa prediksi kapan biasanya mati listrik, tapi kalau mati listrik saya jadi tidak bisa membuat roti karena kan ovennya 4.000 watt sementara gensetnya 2.000 watt. Jadi gak kuat. Kalau hotel-hotel tetap menyala, karena mereka gensetnya yang besar kapasitasnya," tutup Jamaludin.

Sementara Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambire mengatakan pemakaian mata uang Ringgit sebenarnya menjatuhkan martabat negara karena sama saja mengakui mata uang Indonesia lebih rendah dari Malaysia.

"Sebab kalau kita pakai itu Ringgit itu kita (rupiah) dibawah mata uang Malaysia, itu sangat ironis," kata Gubernur Kaltara Irianto di kantor BP3TKI Nunukan setelah meresmikan Program Poros Sentra Pelatihan dan Pemberdayaan Daerah Perbatasan di Nunukan, Kalimantan Utara.

(faj/faj)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads