Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang harus ditempuh menggunakan pesawat kecil dari kota Tarakan selama 20 menit atau menggunakan perahu speedboat selama 2,5 jam. Sedangkan untuk ke Tawau, Malaysia cukup memakan waktu 45 menit dari Nunukan.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Saya kan jual roti. Rotinya bikin sendiri di toko pakai oven, tapi kan bahan-bahannya kaya tepung itu beli di Malaysia lebih murah dan dekat. Kalau dilarang ya gimana ekonomi kita gak maju-maju dong," kata Jamaludin ditemui di Nunukan, Kalimantan Utara, Selasa (16/2/2016).
Ia mengakui memang kualitas gula milik Indonesia lebih manis. Namun, tetap saja warga memilih harga yang lebih murah.
![]() |
Ia menaiki speedboat yang menjadi transportasi umum di Nunukan untuk bisa sampai ke Tawau. Saat memasuki Tawau, menurut pengakuan Jamaludin, cukup meminta izin melintas ke petugas untuk berbelanja dan petugas pun mengizinkannya. Tak perlu adegan mengendap-endap.
"Tidak usah kucing-kucingan, biasanya izin saja ke penjaganya. Kalau TKI ilegal mungkin iya masuk kucing-kucingan," ujarnya.
Menurut Jamaludin, di Nunukan banyak warga yang memakai mata uang ringgit ketika bertransaksi. Hal itu bisa disesuaikan dengan kurs mata uang ringgit, di mana satu ringgitnya sekitar Rp 3000-an
"Banyak di sini yang pakai mata uang Ringgit, Dolar di sini gak laku, Euro juga. Ya mau gimana lagi, namanya juga perbatasan. Gak bisa dia ngelarang-larang orang pakai Ringgit. Kalau orang mau transaksi jual-beli di toko juga bisa, di mana saja bisa di Nunukan sini namanya juga perbatasan," kata Jamaludin.
Tinggal di daerah perbatasan, menurut Jamaludin, sering terkendala sinyal komunikasi dan listrik. Matinya listrik berimbas langsung kepada usaha roti miliknya.
![]() |
Sementara Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambire mengatakan pemakaian mata uang Ringgit sebenarnya menjatuhkan martabat negara karena sama saja mengakui mata uang Indonesia lebih rendah dari Malaysia.
"Sebab kalau kita pakai itu Ringgit itu kita (rupiah) dibawah mata uang Malaysia, itu sangat ironis," kata Gubernur Kaltara Irianto di kantor BP3TKI Nunukan setelah meresmikan Program Poros Sentra Pelatihan dan Pemberdayaan Daerah Perbatasan di Nunukan, Kalimantan Utara.
(faj/faj)















































