Itulah yang terjadi pada gerhana matahari total 11 Maret 1988 yang hanya melintasi Indonesia. Gerhana tahun itu menjadi ujian bagi para ilmuwan.
Berbeda dengan gerhana 1983 yang melintasi Pulau Jawa dengan lokasinya yang mudah diakses, titik pengamatan ideal gerhana 1988 ada di pedalaman Sumatera dan Kalimantan. Bahkan ada di pulau kecil yang tak punya sarana penginapan yang memadai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Gerhana 1988, Peneliti Jepang Sibuk Berburu Penyu)
Ada juga astronom yang memilih pengamatan di Kabupaten Musi Banyuasin. Lokasinya berada di komplek Balai Penelitian Perkebunan Sembawa, sekitar 31 kilometer dari Palembang.
Mereka dikepung guyuran hujan lebat pada malam sebelum gerhana. Nahas, cuaca cerah saat subuh berubah menjadi berkabut saat detik-detik menjelang gerhana total.
"Cuaca hari itu tidak baik karena berkabut," kata astronom asal Prancis Christian Nitschelm kepada detikcom melalui surat elektronik. Ia mengingat saat itu terpaksa pulang dengan tangan hampa. "Kami mendapat bencana besar karena cuaca buruk ini."
Namun para peneliti di Sembawa itu tak larut dalam kekecewaan. Tak lama setelah kabut menutupi matahari, mereka mengubah fungsi kamera dari tadinya untuk memotret ke arah langit jadi alat berfoto bersama. Setidaknya, masih ada kenang-kenangan yang bisa dibawa pulang.
Direktur Balai Penelitian Perkebunan Sembawa saat itu, Sultono Arifin, kagum dengan ketangguhan para peneliti yang masih bisa senyum meski ekspedisi berbiaya tinggi mereka gagal. Ia menyayangkan cuaca yang tak bersahabat pada hari itu. "Tapi para peneliti itu sudah siap mental," kata Sultoni seperti dikutip Antara.
(Baca juga: Gerhana 1988, Warga Kota Ini Terpesona Turis Jepang)
Gerhana matahari total kembali melintasi Indonesia pada 9 Maret 2016. Kementerian Pariwisata menargetkan akan ada 100 ribu turis dan ilmuwan asing berburu gerhana di Indonesia. (okt/slh)











































