DetikNews
Selasa 16 Februari 2016, 09:31 WIB

Batu Akik Belum Habis, Batu Rubah Banyuwangi pun Sampai Ada yang Palsunya

Putri Akmal, - detikNews
Batu Akik Belum Habis, Batu Rubah Banyuwangi pun Sampai Ada yang Palsunya Foto: Putri Akmal/detikcom
Banyuwangi - Demam batu akik yang sempat melanda sampai juga ke Banyuwangi. Di ujung timur Pulau Jawa ini ada jenis batuan kalsedon yang disebut batu rubah Banyuwangi. Batu ini berwarna merah, dan uniknya bila ditaruh di dalam gelas berisi air berwarna bening, air perlahan berubah.

Ya mungkin saja, ada komposisi zat di dalam batu yang ikut melarut membuat air ikut menjadi merah. Tapi memang, ada-ada saja orang yang mengaitkan batu rubah merah ini dengan urusan mistis. Jadi pastinya yang berburu batu ini selain untuk koleksi sebatas batu biasa untuk hiasan, ada juga yang mencarinya untuk urusan 'lain'.

Batu rubah merah ini banyak ditambang penduduk Banyuwangi di Gumuk Gedek, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Tak mudah menemukan batu rubah merah ini, perlu ketelitian dan kesabaran menggali. Tapi begitu penambang mendapatkan bongkahan, rupiah mengalir.

Pecinta akik di Banyuwangi, Hari menyebutkan, sebongkah ukuran kepalan tangan dewasa batu rubah merah nilainya mencapai Rp 5 juta. Yang berburu batu ini pun umumnya bukan warga setempat, tapi orang dari jauh, dari Pulau Sumatera dan Kalimantan. Tak heran karena harga dan sulitnya mencari, batu ini banyak dipalsukan, sama seperti halnya batu Bacan yang terkenal lebih dahulu.

"Kalau asli warnanya justru merah muda, berendamnya pun perlu setengah jam. Beda kalau palsu, sebentar saja direndam sudah berubah warna menjadi merah darah pekat. Makanya hati-hati ketemu barang palsu," ujar Hari Senin (15/2).

Melihat batu asli atau palsu juga gampang, bisa dilihat dengan memberi olesan minyak tertentu atau minyak zaitun di atas batu rubah. Jika saat diolesi minyak, warna dan motifnya tak berubah maka dipastikan batu rubahnya palsu. Tetapi jika dioles warna merahnya semakin menyala maka batu rubah itu asli.

Memalsukan warna rubah merah itu, sambungnya, banyak yang dicampur dengan tinta printer atau dicampur dengan merah meronanya buah naga.

"Tapi yang palsu kalau direndam terus terusa lama-lama ya merahnya hilang," imbuhnya

Cara jitu paling ekstrim menurut Hari, ialah dengan mencicipi air rendaman batu. Jika memiliki rasa pahit, berarti batu itu palsu sebab menggunakan pewarna. Dan jika rasanya tawar tanpa aroma itulah batu yang asli. Mengenali keaslian batu rubah juga bisa dengan karakternya sendiri. Batu jenis kalsedon asal Banyuwangi itu menurut akan berwarna semakin merah atau berubah motif menjadi lebih pekat saat cuaca dingin. Lalu akan kembali memutih atau pudar saat suhu mulai panas.

Lalu, apakah warna batu tersebut bisa luntur? Pria paruh baya ini justru menyatakan kecantikan batu rubah merah tak akan pernah luntur. Jika ingin mengembalikan energi batu rubah merah, cukup dijemur saja beberapa menit dibawah paparan sinar matahari.

"Kalau asli dan ingin kembalikan energi serta mengembalikan kemerahan batunya cukup dijemur aja. Nanti akan kembali merah lagi," pungkasnya.
(dra/dra)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed