Ada versi yang menduga Budi didorong penodong dari Metromini sehingga terjatuh dan kepalanya terbentur aspal. Budi akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan.
Namun ada pengakuan sopir Metromini Hendar yang menjadi pertanyaan. Di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman Jakarta, Minggu (14/2) malam, Hendar mengeluarkan pernyataan yang membuat dahi berkerut. Di depan polisi dia menyebut tidak ada yang mendorong Budi. Kemudian tidak ada ucapan kiri meminta mobil berhenti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat apa yang terjadi dengan Budi dan dengan versi jatuhnya korban dari Metromini, bisa dikatakan apa yang disebut sopir itu janggal. Apalagi dia mengaku hanya ingin menghindari amuk massa dengan pengakuan ada penodong.
Menelaah lebih jauh, Budi terbiasa menggunakan kendaraan angkutan umum dan commuter line. Bagi orang yang biasa menggunakan angkutan umum, sulit diterima logika bila sampai turun dan terjatuh. Biasanya yang memakai angkutan umum sudah tahu turun dengan kaki kiri lebih dahulu untuk menghindari terjatuh.
Kemudian sudah tahu kalau hendak turun akan mengetuk kaca atau atap mobil menandakan berhenti. Apalagi mobil Metromini itu ada seorang kernet.
Karena itu, diduga ada kondisi atau situasi tertentu yang membuat Budi terjatuh dari Metromini. Ada kemungkinan pihak lain yang mendorong dia. Atau ada juga dugaan korban diintimidasi seseorang dan terpaksa mengambil jalan pintas melompat dari Metromini.
Teka teki mengapa Budi turun hingga membuat dia jatuh dari Metromini masih menjadi misteri. Mungkin penemuan HP korban, bisa membuka soal misteri ini. Apakah ada di tangan oknum lain atau berada di mana HP itu. Semoga polisi bisa mengungkapnya. (rni/dra)










































