Saat itu prasasti ditandatangani Menteri Transmigrasi Martono dan Gubernur Bengkulu Soeprapto yang ikut menonton gerhana di Desa Pal-30 yang berada di tepi samudera itu. Prasasti itu sengaja ditempatkan di tepi jalan raya agar mudah dilihat.
Bupati Bengkulu Utara ketika itu, Syahri Romli, mengatakan di lokasi prasasti itu akan dibangun tugu gerhana matahari total. "Agar generasi muda dapat mengenang bahwa daerahnya pernah dilewati gerhana matahari total," kata Syahri seperti dilansir Antara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan warga Bengkulu yang berkumpul di lapangan sepak bola Desa Pal-30 tak ragu-ragu menonton gerhana secara langsung karena memakai filter khusus. Pemerintah setempat memang sudah mengajarkan penduduknya agar tak melihat gerhana dengan mata telanjang kecuali saat matahari tertutup sepenuhnya oleh bulan dan kembali memakai filter lagi saat bulan mulai bergeser lagi.
Gerhana matahari total 1988 di Bengkulu bisa dilihat di Kota Bengkulu, Kepahyang, Curup, Padang Ulak Tanding, Mara Aman, Lais, Ketahun, Ipuh, dan Lebong. Khusus di kota Bengkulu, warga lokasl dan turis memenuhi Pantai Panjang buat menyaksikan gerhana.
Tahun ini gerhana matahari total kembali melintasi Bengkulu, termasuk Bengkulu Utara. Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu menyiapkan lokasi pengamatan di Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, dan Kabupaten Lebong.
Kementerian Pariwisata menargetkan ada lima juta wisatawan domestik dan 100 ribu turis asing menyaksikan gerhana di Indonesia. "Kami sudah promosikan jauh hari, sejak akhir tahun 2015 lalu. Karena itu hotel-hotel semua bintang di kota-kota yang akan dilintasi GMT itu sudah tidak nampung lagi," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Apakah Anda memiliki pengalaman menyaksikan gerhana matahari total pada 1983, 1988, atau 1995? Silakan berbagi cerita ke redaksi@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda.
(okw/jor)











































