Berburu Gerhana Sudah Mentradisi Sejak 1851

Gerhana Matahari Total di Indonesia

Berburu Gerhana Sudah Mentradisi Sejak 1851

Okta Wiguna - detikNews
Sabtu, 13 Feb 2016 10:57 WIB
Berburu Gerhana Sudah Mentradisi Sejak 1851
Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Kota-kota yang dilintasi gerhana matahari total 9 Maret 2016 mulai kewalahan menampung turis yang datang sampai rumah warga disulap jadi penginapan dadakan. Bahkan turis asing sudah sejak lama booking hotel-hotel itu.

Mengapa mereka jauh-jauh datang ke Indonesia untuk berburu gerhana? Ternyata selain gerhana matahari total adalah fenomena langka, perburuan gerhana juga sudah jadi tradisi sejak 1851.

Gerhana matahari memang sudah diamati sejak zaman sebelum masehi. Namun baru pada 1851 itulah tercatat ada ekspedisi besar yang secara khusus memburu gerhana ke lokasi yang dilintasinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu ratusan astronom berangkat ke Norwegia buat mengamati gerhana. "Sejak itu astronom telah memburu hampir semua gerhana matahari yang terjadi di dunia yang lokasinya dapat diakses," kata astronom Australia David Rineke.

Para pemburu itu pun sudah datang ke Indonesia sejak masih berstatus Hindia Belanda pada 18 Mei 1901. "Gerhana ini penting karena ada periode waktu pengamatan matahari yang terlama, 6,5 menit," kata James W. Gould dalam buku Americans in Sumatera yang terbit pada 1961.

Astronom dari Amerika Serikat, Belanda, Prancis, dan Rusia bahkan menumpang kapal laut selama dua bulan demi sampai ke Sumatera Barat. Mayoritas dari mereka menyaksikan gerhana dari Padang dan Bukittinggi.

(Baca juga: Diberi Banyak Kemudahan, Turis Gerhana Serbu 'Indonesia' Pads 1901)

Seiring kemajuan teknologi, perburuan gerhana pun kian canggih. Pada Juni 1973, misalnya, pesawat jet Concorde dimodifikasi khusus buat mengejar gerhana dengan membuat jendela khusus di atapnya sehingga bisa mengamati dari dalam kabin.

Demi mengejar gerhana yang bergerak dengan cepat iu, pesawat terbang dengan kecepatan maksimum 2400 km/jam di ketinggian 17.000 meter. Melintasi Mauritania hingga ke Chad di benua Afrika, Concorde bisa terus berada di daerah gerhana matahari total yang gelap selama 74 menit.

Seiring berjalannya waktu, pemburu gerhana juga bukan saja astronom dan peneliti. Kalangan awam juga ikut mengejar gerhana ke lokasi terjadinya fenomena langka itu.

(Baca juga: Turis Gerhana Membeludak, Hotel-hotel di Bangka Belitung Sudah Penuh)

Tahun ini, Kementerian Pariwisata memperkirakan akan ada lima juta wisatawan domestik di kota-kota yang dilintasi gerhana matahari total 9 Maret 2016. Diharapkan juga turis asing akan mencapai 100 ribu orang.

"Kami sudah promosikan sejak akhir 2015," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya pada Jumat (12/2/2015). "Karena itu hotel-hotel semua bintang di kota-kota yang akan dilintasi GMT itu sudah tidak nampung lagi." (okt/hri)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads