Canda Alexander: Mudah Saja Deteksi Korupsi, Lihat Tempat Parkirnya

Canda Alexander: Mudah Saja Deteksi Korupsi, Lihat Tempat Parkirnya

Dhani Irawan - detikNews
Jumat, 12 Feb 2016 18:44 WIB
Canda Alexander: Mudah Saja Deteksi Korupsi, Lihat Tempat Parkirnya
Alexander Marwata dan Laode M Syarif saat berkunjung ke redaksi detikcom, Jumat (12/2/2016). Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Gaya hidup mewah pejabat biasanya jadi sorotan dan kerap diidentikkan dengan dugaan penyimpangan. Kesesuaian gaya hidup dengan penghasilan resmi menjadi penting untuk dipertanggungjawabkan pejabat negara.

"Banyak perilaku oknum pejabat atau pegawai negeri yang sebetulnya gampang menandai apakah orang ini korupsi, jujur atau nggak. Perilaku koruptif gampang sekali ditandai dengan melihat lifestyle seseorang, itu paling paling mudah sekali," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat berkunjung bersama pimpinan KPK lainnya Laode M Syarif ke kantor detikcom, Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Jumat (12/2/2016).

Alex menyebut gaya hidup mewah tak bisa serta merta dijustfikasi sebagai hasil tindak pidana korupsi. Mungkin saja pejabat itu punya bisnis lain di luar penghasilan resmi. Tapi para pejabat memang harus bisa mempertanggungjawabkan harta kekayaannya diperoleh dengan cara sah. 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mantan Hakim Ad Hoc Pengadilan Tipikor ini berkelakar dirinya bisa dengan mudah mendeteksi ada tidaknya korupsi tanpa perlu perhitungan rumit. Cukup dengan melihat lokasi parkir, Alex yang pernah berkarir di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ini bisa menerka ada tidaknya penyimpangan.

"Saya tanpa melakukan audit investigasi bisa kok melihat instansi mana yang korupsinya tinggi, hanya dengan melihat misalnya tempat parkirnya. Cuma ya itu tadi, hal-hal seperti itu dianggap masyarakat kita lumrah. Contoh tetangga kita terparkir mobil BMW, memang kita mempermasalahkan, syukur-syukur bisa numpang atau sumbangan RW besar," kelakar Alex.

Dia menekankan upaya pencegahan dilakukan simultan dengan upaya penindakan. Tapi Alex menyinggung minimnya pemberitaan media mengenai upaya pencegahan yang bisa menyelamatkan potensi kerugian keuangan negara.

"Media itu lebih tertarik pada berita-berita penindakan yang seksi. Pimpinan KPK yang baru disebut akan membawa KPK menjadi komisi pencegahan korupsi, sebetulnya nggak juga. Seperti Pak Syarif (Laode Syarif) bilang itu harus ada keseimbangan antara pencegahan dan penindakan," ujarnya.

Operasi tangkap tangan (OTT) yang kerap jadi perhatian publik menurut Alex memang jadi prestasi KPK. Tapi di sisi lain, OTT belum juga memberi efek jera karena korupsi masih saja terjadi.

"Penangkapan atau OTT kalau terjadi korupsi mungkin di suatu sisi suatu prestasi tapi di sisi lain bagi kami itu tragedi juga dalam pemberantasan korupsi. Artinya kita tidak bisa membuat para pelaku koruptor jera, meski sudah berkali-kali ada OTT," sebutnya. (dhn/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads