Pengadaan pesawat latih taktis ini sendiri sebenarnya belum tuntas. Dari 16 unit pesawat yang dipesan Indonesia dari Brasil, baru 12 yang telah dikirimkan. Pesawat Super Tucano dipesan untuk menggantikan pesawat Bronco OV-10 di Skadron 21 yang bermarkas di Lanud Abdurrahman Saleh itu.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu belum memutuskan apakah akan membatalkan sisa pemesanan pesawat yang belum datang itu. Ada empat yang belum datang dari pemesanan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut disampaikannya usai rapat bersama Komisi I di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/2/2016). Pesawat Super Tucano dipesan dari perusahaan Embraer Defence System.
Lantas apakah Indonesia akan melibatkan Brasil dalam investigasi jatuhnya pesawat?
"Oh iya, kita panggil nanti, pertama kali awal seperti itu, kalau nggak jelas kita tanya," jawab mantan KSAD itu.
Kontrak pembelian pesawat ini senilai 284 juta USD untuk 16 unit. Pengadaan pesawat untuk TNI AU tersebut masuk dalam Renstra pertama TNI yang ditandatangani pada tahun 2010.
Bukan baru sekali pesawat TNI AU jatuh. Belum lama ini, pesawat temput T-50 Golden Eagle juga jatuh di Yogyakarta. Ryamizard berjanji melakukan evaluasi.
"Evaluasi jelas, kan harus diperiksa dulu. Kan kenapa begitu, nah kenapanya dari situ kita akan evaluasi," tutupnya. (ear/tor)











































