"Terus kakek ngasih lihat gambar matahari digigit makhluk aneh," kata Luthfiah kepada detikcom. "Saya sampai nangis-nangis saking seremnya."
Meski cerita horor itu terus menempel di benaknya, Luthfiah makin penasaran dengan benda-benda langit. Kini pelajar di SMAN 1 Bajeng, Gowa, Sulawesi Selatan, ini malah bergabung dengan Astronomy Bajeng Club, salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya yang dibina oleh Astronom Amatir Makassar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luthfiah bercerita, klub astronominya akan mengamati gerhana matahari total 9 Maret 2016 di halaman sekolah. Pihak sekolah bahkan membantu menyediakan filter agar mereka dapat menyaksikan gerhana dengan aman.
"Tadinya mau ikut pengamatan ke Universitas Hasanuddin bareng kakak-kakak Astronom Amatir Makassar," kata Luthfiah. Sayang, jarak yang jauh itu jadi penghalang karena mereka kesulitan mendapatkan biaya untuk transportasi.
Luthfiah merasa tak sabar melihat secara langsung gerhana yang oleh kakeknya digambarkan begitu menyeramkan itu. Ia juga mengajak teman-teman di sekolah dan sekitar rumahnya buat melihat fenomena langka itu. "Makin banyak teman-teman yang penasaran dan ingin lihat langsung gerhana Maret nanti."
(Baca juga: Begini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Total)
Gerhana matahari total tahun ini mempunyai jalur yang mirip dengan yang terjadi pada 1983. Saat itu kota-kota di Sulawesi Selatan sepi karena penduduknya bersembunyi di dalam rumah seperti anjuran pemerintah.
Kali ini para astronom amatir sibuk menyiapkan rencana berburu gerhana. Pemerintah daerah yang wilayahnya dilintasi gerhana matahari total juga tengah mematangkan acara menyambut turis gerhana.
Kementerian Pariwisata menargetkan ada lima juta wisatawan domestik datang ke daerah yang dilewati gerhana matahari total. Menteri Pariwisata Arief Yahya juga memprediksi promosi gencar sejak dua tahun lalu akan menggaet setidaknya 100 ribu turis asing. (okw/okw)











































