Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti mengatakan, Begeng awalnya memang berniat menculik korban.
"Dia niat menculik kemudian dia panik, dia tahu kalau anak itu dicari-cari, kemudiam dia infokan ke teman-temannya seolah-olah anak itu diculik, padahal dia sendiri yang SMS," jelas Krishna kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia gunakan dua HP, satu HP seolah-olah pelaku penculikan, satu lagi milik dia seolah-olah yang menagmankan. Dua-duanya (kedua handphone) milik dia," jelas Krishna.
Setelah menculik korban dari sekolahannya di Beji, Depok, Begeng kemudian membawa J ke rumahnya di Jl H Albaido, Lubang Buaya, Cipayung, Jaktim pada Sabtu (6/2) siang. Sore harinya, Begeng kemudian datang ke warung kopi di Beji, Depok, tempat dia biasa nongkrong.
Di warkop tempat Begeng nongkrong ini jugalah paman korban J sempat mencari keponakannya. Di situlah si paman bertemu Bgeng yang kemudian ditunjukkan SMS misterius itu oleh Begeng.
"Jadi pas saya lagi cari hari Sabtu (6/2) sore, saya ke warkop tempat tongkrongan si Begeng. Terus si Begeng nunjukin SMS misterius ke saya," ujar paman korban, Hari, saat ditemui di RS Polri, Jl Kramat Jati, Jakarta, Minggu (7/2/2016). Hari di RS Polri untuk mengurus autopsi keponakannya.
Adapun, SMS yang ditunjukkan Begeng kepadanya berbunyi:Β "Tolong sampaikan ke pihak keluarga J bahwa J ada di saya. Kalau tidak disampaikan bisa dibunuh."
Hari langsung menelepon nomor yang mengirim SMS tersebut dan menanyakan pengirim itu berada di mana. "Dia bilang dia ada di Ciledug," kata Hari lagi. (mei/rvk)











































