Patung karya seniman kenamaan Roestamadji ini dibuat pada tahun 1951 hingga 1953. Patung yang terbuat dari batu seberat 800 Kg ini terletak di pinggir Jalan Batikan di pekarangan rumah milik Widyo Winoto. Pada Jumat(8/2) patung tersebut dipindahkan ke Bangsal Kesatriyan keraton Yogyakarta.
![]() |
Prosesi ritual pemindahan dilakukan sesuai dengan adat dan dilakukan langsung oleh putri mahkota Keraton Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi. GKR Mangkubumi dengan menggunakan padi Jawa menyirami patung Sri Sultan Hamengku Buwono IX tersebut. Setelah disiram, patung kemudian dibalut dengan kain warna putih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Patung ini ditempatkan di Bangsal Kesatriyan karena di lokasi tersebut banyak dilewati para wisatawan. Kesatriyan adalah bangsal untuk lelaki.
![]() |
"Kami mengapresiasi karya ini. Sebagai bentuk apresiasi yang tinggi bagi pembuatnya, patung dimasukkan ke dalam keraton. Pada awal Sri Sultan Hamengku Buwono IX memang berpesan bahwa beliau tidak mau namanya dijadikan nama jalan atau patung. Tapi patung ini sudah dibuat lama, kehujanan di tempat ini. Kami ingin memuliakanya di dalam keraton," kata GKR Mangkubumi pada prosesi pemidahan patung di Jalan Batikan, Yogyakarta, Senin (8/2/2016).
Setelah ditempatkan di Bangsal Ksatriyaan, pada Selasa (9/2) akan diresmikan oleh Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Bawono X. Seluruh keluarga keraton para putro dalem dan rayi dalem diundang dalam peresmian tersebut. Keluarga dari pembuat patung yakni keluarga Roestamadji juga akan hadir.
Putra dari Roestamadji, Karang Sasangka(54) yang hadir pada prosesi pemindahan mengatakan, keluarga sangat senang patung dipindah ke keraton karena akan menjadi terawat. Pada peresmian di Bangsal Kesatriyan, semua keluarga dari Roestamadji akan hadir. (hri/hri)