Namun demikian, Ahok justru mempersilakan massa GP Ansor untuk memilih cagub lain di Pilgub DKI 2017, apabila ada cagub yang lebih baik dari dirinya. Bagaimana sebenarnya Ahok menakar potensi dukungan dari kelompok Nahdiyin (sebutan masyarakat Islam NU)?
"Saya enggak tahu, karena zaman ini sudah susah," ucap Ahok saat ditanya di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (5/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang mau datang meraih yang bawah itu enggak gampang," tiliknya.
Ahok sadar, setiap warga DKI bakal punya pilihan sendiri-sendiri di Pilgub 2017 nanti. Ahok juga tak bisa memaksakan kehendak untuk meraih dukungan dari kelompok Islam di Jakarta. Namun di sisi lain, faktanya, partai-partai berbasis agama juga sulit berjaya di persaingan politik.
"Kan masing-masing orang punya pilihan. Terbukti tho? Partai-partai berbasis agama juga kalah kan?" kata Ahok.
Terlepas dari takaran Ahok, sebagaimana diketahui, PDIP merupakan partai pemenang pemilu di Pemilu Legislatif DKI. Partai berbasis nasionalis ini menjadi partai dengan jumlah kursi terbesar di DPRD DKI, 28 kursi. Diikuti di urutan kedua, Partai Gerindra dengan 15 kursi, baru diikuti PKS yang merupakan partai berbasis Islam dengan 11 kursi di DPRD DKI.
Sebelumnya, dikatakan Wakil Ketua GP Ansor DKI Anwar Sjani, Ahok memang difavoritkan menjadi gubernur lagi lewat Pilgub DKI 2017.Β Ahok dinilai sebagai petahana yang sudah menunjukkan kinerjanya membenahi Ibu Kota.
"Potensinya besar sebagai petahan. Sangat favorit. Ukuran kinerja dia jelas, sukses dalam penataan pedagang kaki lima hingga mengantisipasi banjir," kata Anwar di Balai Kota. (dnu/imk)











































