"Dua orang meninggal dunia akibat DBD. Total hingga Januari tercatat sebanyak 243 orang terkena DBD," kata Daryanto Chudorie, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK), Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Jumat, (5/2/2016).
Dia mengimbau agar masyarakat mewaspadai kemungkinan timbulnya penyakit ini di musim penghujan. Pihaknya juga surat memberikan edaran gubernur DIY pada bulan Desember 2015 agar masyarakat mewaspadai kemungkinan terjadi ledakan kasus demam berdarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus DB di Kota Yogyakarta lanjut dia, terjadi 45 kasus, Kabupaten Bantul sebanyak 104 orang, di Gunungkidul sebanyak 57 orang, di Sleman 29 orang dan di Kulon Progo sebanyak 10 orang. Sebanyak dua orang yang meninggal dunia akibat DB berasal dari Sleman dan Kulon Progo.
"Saat ini belum dinyatakan sebagai KLB karena jumlahnya masih sedikit dibandingkan daerah lain," katanya.
Dia menambahkan tren peningkatan kasus penyakit demam berdarah itu mulai terlihat pada 2014. Pada tahun itu terjadi 1955 kasus dengan jumlah orang yang meninggal dunia sebanyak 13 orang.
"Saat ini ada peningkatan jumlah penderita karena pada Januari hingga Maret adalah musim penghujan. Kasus DB biasanya muncul pada bulan tersebut," katanya.
Dia mengimbau supaya ada pemantauan jentik-jentik di setiap tandon air dan menghilangkan genangan air. Surveilance di masing-masing wilayah akan terus melakukan pengamatan, pengawasan dan penjagaan untuk dilaporkan ke petugas dari puskesmas.
"Pemberantasan sarang nyamuk menjadi prioritas, menguras, mengubur dan menutup atau 3 M merupakan upaya membasmi jentik," kata Daryanto.
Pihaknya juga sudah menginstruksikan ke semua pusat kesehatan masyarakat untuk mendeteksi dini pasien soal demam berdarah ini. Tujuannya secara akurat mendeteksi adanya pasien yang terserang demam berdarah. (bgs/try)











































