Mengungkap Jejak dan Peninggalan Gerakan Freemasonry di Jakarta

Rivki - detikNews
Kamis, 04 Feb 2016 13:09 WIB
Foto: dok.The Stevens/Loji Matahari
Jakarta - Batavia, atau yang sekarang disebut Jakarta bertabur jejak Freemasonry. Sejumlah lokasi di Jakarta diduga kuat menjadi simbol pembuktian eksistensi kelompok persaudaraan rahasia yang kerap dikaitkan dengan kaum cendikiawan di Eropa.

Mengutip CNNindonesia.com, Kamis (4/2/2016) perkumpulan Freemasonry masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya para serdadu Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC).

Bukti kedatangan Freemasonry bersama VOC ini menurut pengamat sejarah kemasonan Sam Ardi, bisa dilihat dari nisan serdadu VOC yang ada di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. Di salah satu nisan di museum itu terdapat logo Freemasonry berupa jangka dan penggaris siku. Logo serupa juga ada di salah satu kuburan di Makam Pandu, Kota Bandung, Jawa Barat.

"Saat itu (jaman VOC), belum ada loji. Mereka adalah individu yang tidak terikat," kata Sam kepada CNN Indonesia.

Kelembagaan terbentuk setelah didirikannya loji pertama yang bernama La Choisie di Batavia tahun 1762 (literatur masonik menyebut 1764). Yang memprakarsai adalah Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher. Ia adalah anak dari suhu agung pertama Freemasonry Belanda, Joan Cornelis Radermacher.

Dalam buku Stevens ditulis, Loji La Choisie membawahi wilayah Jawa, Sumatra, Malaka, Makassar, Ternate, Ambon, dan Banda. Pendirian loji ini disebut sebagai tindakan yang berani karena saat itu perkumpulan Freemasonry dimusuhi negara karena pengaruh para rohaniawan saat itu.

La Choisie tak berumur panjang. Steven menulis, loji ini hanya ada sampai pada tahun 1766. Tidak diketahui pasti lenyapnya loji ini. Hanya ada dugaan bahwa loji tak berumur panjang karena larangan dari pemerintah saat itu. Apalagi belum lama terbentuk, Radermacher sebagai tokoh sentral, mengambil cuti dan pulang ke Belanda.

Ketidakhadiran Radermacher ini dinilai jadi salah satu penyebab loji Freemasonry pertama ini tak berusia lama. Selang satu tahun setelah loji itu tutup, tahun 1767 muncul loji baru di Batavia yakni La Fidele Sincerite. Sementara pada tahun 1769 kembali muncul loji La Vertueuse.

Tahun 1967, saat Le Fidele Sincerite terbentuk, dianggap sebagai awal kehadiran Freemasonry Hindia Belanda. Pada tahun ini pula Freemasonry di daerah jajahan Belanda ini mulai terorganisir.

Sebagai pemimpin tertinggi ditunjuk Nicolaas Engelhard sebagai Suhu Agung Provinsial. Ia adalah Direktur dan Gubernur Pesisir Timur Laut Jawa Pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1773, sebuah gedung di Jalan Amanusgracht (kini Jalan Kopi/Bandengan Utara) diizinkan untuk dipakai sebagai loji Le Sincerite sampai tahun 1815. Tahun 1815, loji dipindahkan ke Jalan Tijgersgracht (kini Jalan Poskota).

Sementara loji Vertueuse berdiri 1769 berada di Jalan Molenvliet (kini Jalan Gajah Mada/Hayamwuruk).

Februari 1830, loji baru untuk Vertueuse dibangun di Jalan Budi Utomo di atas tanah hibah. Bangunan loji sampai sekarang masih ada yakni gedung Kimia Farma.

Tahun 1837 merupakan tahun penting bagi dua loji yang ada di Batavia. Le Sincerite dan Vertueuse sepakat untuk dilebur jadi satu loji besar yang diber nama De Ster in het Oosten (Bintang Timur).

Loji Bintang Timur ini bangunannya masih berdiri sampai sekarang yakni gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jalan Taman Suropati Nomor 2, Menteng, Jakarta Pusat. (dra/dra)