(Baca juga: Pemerintah Larang Menonton Gerhana 1983 Karena Bisa Membutakan Mata)
Akibatnya masyarakat ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah. Polisi pun dikerahkan menghalau masyarakat yang masih berani berkeliaran saat gerhana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat di belahan dunia tidak terjadi seperti ini, yang sifatnya informasi membodohi," kata Diyono, pembaca detikcom yang menyaksikan gerhana 1983. "Saya berharap pemerintah Indonesia sekarang memberikan informasi secara cerdas kepada rakyatnya soal kejadian alam ini," ucap Diyono.
Hal senada diungkapkan Muzakkir (58) yang saat gerhana tengah kuliah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Menikmati gerhana yang menurutnya indah itu, Muzakkir menyayangkan saat itu masyarakat dilarang melihatnya. Ia berharap pemerintah tidak lagi menakut-nakuti masyarakat soal gerhana.
Hal yang sama diungkapkan oleh Setyawan Murdono yang saat gerhana 1983 berada di Sragen. Ia beruntung bisa melihat gerhana secara langsung karena ayahnya justru mengajaknya keluar rumah meski sempat ditegur polisi.
"Untuk gerhana tahun ini, jangan ada kebodohan-kebodohan seperti tahun 1983," kata Setyawan. "Katanya habis ngelihat gerhana bisa buta, wong saya sampai sekarang masih bisa melihat kok, alhamdulillah."
Menanggapi permintaan masyarakat ini, Menteri Pariwisata Arief Yahya meyakinkan publik bahwa pemerintahan Jokowi tak akan mengulangi cara masa lalu itu. Ia justru mengimbau agar masyarakat keluar rumah saat gerhana. "Dari kepala LAPAN, pernyataannya kan kita boleh memandangnya, yang berbahaya itu (melihat) pergerakan dari tidak ada cahaya menjadi ada cahaya," kata Arief.
(Baca Juga: Begini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Total)
Kementerian Pariwisata yang sudah mempromosikan momen langka ini sejak dua tahun lalu menargetkan akan ada 100 ribu turis gerhana asing. Sementara itu untuk masyarakat Indonesia, Kementerian akan menyediakan 1.000 kacamata gerhana yang akan didistribusikan ke 12 titik yang dilewati gerhana. (slm/okt)











































