Yang Eksklusif Ya DetikX

Surat dari Buncit

Yang Eksklusif Ya DetikX

Iin Yumiyanti - detikNews
Kamis, 04 Feb 2016 10:39 WIB
Foto: Suteja
Jakarta - Akhir-akhir ini lonceng kematian media cetak semakin sering berdentang. Dari seluruh penjuru dunia, terdengar kabar koran dan majalah (cetak) merugi dan lalu tutup. Mati pelan-pelan.

Sejumlah kalangan menyuarakan kekhawatiran, dengan matinya koran dan majalah (cetak), jurnalisme yang berkualitas akan lenyap.

Kalangan ini mengira Internet, yang identik dengan kecepatan, akan kesulitan, bahkan tidak mungkin bisa, menghadirkan berita yang komprehensif dan mendalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalangan ini bertanya-tanya, apakah mungkin berita investigasi yang mendalam bisa muncul di Internet? Apakah mungkin kecepatan bersanding dengan kedalaman berita?

Jawabannya adalah mungkin. Bagi kami, media atau wadah produk jurnalisme boleh saja berganti, tapi jurnalisme yang bermutu tidak akan pernah mati.
Detikcom, yang lahir pada 9 Juli 1998, memang identik dengan berita cepat dan akurat. Namun, dari tahun-tahun awal berdiri, kami selalu menyadari bahwa informasi yang komprehensif dan mendalam selalu dibutuhkan pembaca.
Kami tahu tidak semua pembaca suka atau punya waktu untuk mengikuti update berita, yang terus berkejaran. Tidak semua pembaca mau menunggu update berita dan mengklik satu per satu link berita terkait, yang jumlahnya bejibun, yang kadang bisa lebih dari 100 artikel.


Banyak pembaca yang lebih suka membaca berita yang sudah dikurasi, berita yang utuh, lengkap, dan komprehensif, sehingga bisa lebih memahami duduk perkara suatu masalah. Maka, sejak awal tahun 2000-an, selain mempertahankan berita cepat dan akurat, detikcom menghadirkan berita in-depth dalam bentuk laporan khusus. Ternyata jumlah pembacanya lumayan.


Lantas, ketika zaman iPad datang pada 2011, kami menelurkan detik+, sebuah majalah mini yang isinya lima tulisan in-depth dalam Laporan Utama. Majalah ini kami banderol dengan harga alias berbayar, dan ternyata laku juga. Majalah mini ini kemudian dikembangkan menjadi majalah detik dengan rubrikasi lengkap.
Namun, setelah empat tahun berjalan, terpaksa majalah detik tidak kami terbitkan lagi karena aplikasi yang kami gunakan tak lagi dikembangkan oleh Adobe, perusahaan pembuat aplikasi asal Amerika Serikat. Selain itu, bentuk majalah digital, yang harus di-download, agak merepotkan pembaca karena masalah ukuran file yang besar dan koneksi Internet.
Kami terus melakukan inovasi. Akhirnya kami memutuskan kembali ke dunia online. Kami mempertahankan berita in-depth tapi kami terbitkan secara online, sehingga lebih mudah dibaca dan tentunya dibagikan (share) seperti lazimnya dilakukan pembaca zaman sekarang.

Ya, berita in-depth memang identik dengan tulisan panjang. Namun kami tahu bagaimana menyajikan sebuah tulisan agar memikat. Anda juga akan menemukan desain kami yang keren, sangat berbeda dengan layout desain berita online lainnya. Kami juga tampil atraktif dengan materi video dan konten interaktif lainnya, sehingga pembaca menjadi asyik menikmatinya. Pendek kata, jangan khawatir akan bosan!

Tayangan online yang mendalam dan menawan ini kami namai detikX, yang artinya detik eksklusif. Kami memilihkan tema-tema eksklusif, menghadirkan berita-berita eksklusif hasil reportase wartawan kami sendiri di lapangan, mewawancarai narasumber eksklusif, dan mengemasnya secara eksklusif, khusus untuk Anda. Selamat menikmati. Salam! (iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads