Nazaruddin Gunakan Nama Anak Buah Beli Aset di Pekanbaru

Ferdinan - detikNews
Rabu, 03 Feb 2016 14:10 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Muhammad Nazaruddin punya sederet aset harta kekayaan di sejumlah wilayah. Pembelian aset juga dilakukan Nazaruddin dengan menggunakan nama orang lain seperti anak buahnya.

Pengakuan ini disampaikan bekas anak buah Nazaruddin, Marisi Matondang, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakpus, Rabu (3/2/2016).

Marisi yang dulunya bekerja sebagai office boy sebelum diberi jabatan Direktur di PT Mahkota Negara ini memang menyebut aset yang dimiliki Nazaruddin mulai dari tanah dan bangunan, unit rusun, gedung dan perkebunan kelapa sawit.

"Saya ketahui dari Pak Nazar dan salah satu asetnya ada nama saya," kata Marisi.

Nama Marisi digunakan Nazar untuk membeli bangunan perkantoran di City Square, Blok E/10, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. "Terus dialihkan Pak Nazar ke atas nama Haji Rahmat," sebutnya.

Namun ruko tersebut, sambung Marisi, sudah diagunkan ke bank untuk mendapatkan modal membeli 17 mobil tangki.

Ada juga aset bangunan PT Inti Karya Plasma Perkasa di Pekanbaru yang kepemilikannya diatasnamakan Marisi. "Tapi 2012 sudah disita KPK," imbuhnya.

Marisi menegaskan kepemilikan aset yang diatasnamakan dirinya merupakan perintah langsung dari atasannya. Marisi memang sudah lama ikut bekerja dengan Nazar sejak tahun 2002. "Pak Nazar," katanya.

Penggunaan nama anak buah sambung Marisi juga dilakukan Nazar saat membeli ruko di Bekasi. "Atas nama Gerhana (Gerhana Sianipar)," ujar dia

Dalam persidangan, Marisi menjelaskan dirinya sebagai staf PT Mahkota Negara ditugaskan Nazar untuk memantau seluruh lelang proyek di Indonesia terutama di Jakarta.

"Pada 2006 baru dibuat (posisi) saya jadi komisaris," sebutnya.

Perjalanan bisnis Nazaruddin berkembang pada tahun 2006 sejak mendirikan PT Anugrah Nusantara. "Kita sudah mulai dapat proyek awalnya di Departemen Kelautan, proyek pengadaan simulator. Kita hanya disuruh ikut saja, ikut lelang, ngga tahu Pak Nazar gimana (caranya sehingga) kita menang. Pada tahun 2007 kita dapat banyak proyek di Diknas," imbuh Marisi.

Muhammad Nazaruddin didakwa menerima 19 lembar cek senilai Rp 23,119 miliar dari PT Duta Graha Indah dan uang tunai Rp 17,250 miliar dari PT Nindya Karya.

Pemberian-pemberian ini merupakan imbalan (fee) karena Nazaruddin mengupayakan PT DGI dalam mendapatkan beberapa proyek pemerintah tahun 2010 yaitu proyek pembangunan gedung di Universitas Udayana, Universitas Mataram, Universitas Jambi, Badan Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya tahap 3, RSUD Sungai Dareh Kabupaten Darmasraya, gedung Cardiac RS Adam Malik Medan, Paviliun RS Adam Malik Medan, RS Inspeksi Tropis Surabaya, RSUD Ponorogo.

Serta imbalan karena Nazaruddin sudah mengupayakan PT Nindya Karya dalam mendapatkan proyek pembangunan Rating School Aceh serta Universitas Brawijaya tahun 2010.

Selain itu Nazaruddin didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan total sekitar Rp 627 miliar periode tahun 2010-2014. Sedangkan pada periode 2009-2010 Nazaruddin didakwa melakukan pencucian uang dengan total Rp 83,6 miliar. (fdn/aan)