Beberapa bulan belakangan, KRL sering mengalami keterlambatan. Penyebabnya macam-macam. Dari mulai gangguan sinyal, pantograf terbakar, kereta anjlok dan lain-lain. Seperti hari ini, Rabu (3/2/2016) perjalanan KRL kacau karena gangguan persinyalan di jalur Depok-Pasar Minggu.
Jika KRL bermasalah, dampaknya sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, data PT KCJ, setiap harinya mereka mengangkut sekitar 600 sampai 700 ribu orang. Penumpang KRL naik dua kali lipat, tepatnya sejak E-Ticketing dan Tarif Progresif diberlakukan 1 Juli 2013 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rata-rata di Twitter, para pengguna KRL marah karena gangguan KRL ini. Mereka jadi terlambat ke kantor, terlambat menemui klien, terlambat ikut meeting penting dan lain-lain. Mereka pun harus siap menerima dimarahi atasan, kerja sama dengan klien yang tertunda atau bahkan batal dan sebagainya.
Tak banyak yang bisa dilakukan jika KRL sudah mengalami gangguan. Di dalam KRL, penumpang hanya bisa pasrah menunggu, kepanasan. Belum lagi jika menunggunya dalam posisi berdiri, atau tengah kebelet buang air kecil atau besar. Nasib apes juga dialami calon penumpang yang belum naik KRL. Jika mereka mau keluar dari stasiun, harus membayar Rp 2.000.
KRL memang selalu menyarankan agar calon penumpang mencari moda transportasi lain jika KRL tengah bermasalah. Namun hal itu dicibir karena calon penumpang harus membayar lagi uang Rp 2.000. Belum lagi lalu lintas sudah pasti padat karena puluhan ribu calon penumpang kereta berebutan naik angkutan umum. Orang kantoran yang mau minta surat terlambat di stasiun pun antrenya bukan main.
"@CommuterLine terus penumpang yg terburu2 dan keluar stasiun msh didenda 2rb gitu? Lagi2 menang banyak @PTKAI," demikian cuit salah satu pengguna Twitter. Banyak sekali yang mengeluhkan hal ini. Sudah kesusahan karena KRL gangguan, mau keluar pun harus bayar lagi.
"Pemerintah terus mendorong-dorong supaya kita naik transportasi publik. Saya salah satu yang mendukung dengan naik KRL meski saya punya motor dan mobil di rumah. Tapi kalau KRL sering gangguan begini, sama saja omong kosong. Pemerintah, PT KAI, PT KCJ harus segera berbenah. Turun ke lapangan, lihat, jangan hanya tahu teori, mendorong-dorong transportasi publik tapi engak siap," ujar Ronny salah satu pegawai swasta di Jakarta Selatan saat dihubungi detikcom, pagi ini.
PT KCJ pun diminta segera berbenah. "Cuma bisa bilang semoga Tuhan pulihkan transportasi publik Jakarta. They're all sickening," ujar Irene yang pagi ini terlambat ke kantornya di daerah Casablanca, Jakarta Selatan. Dia juga mengeluhkan harus membayar Rp 2.000 saat keluar dari Stasiun Tanjung Barat. (hri/ndr)











































