Kapolda Aceh, Irjen Husein Hamidi, mengatakan, korban diculik oleh empat pelaku saat pulang dari kantor pada Kamis (28/1/2016) sore. Kamal kemudian dibawa ke arah Aceh Utara dengan mata ditutup.
Mobil milik korban dibawa oleh pelaku dan kemudian ditemukan di wilayah Bireuen, Aceh. Selama berada di tangan penculik, korban dibiarkan kelaparan. Sedangkan para penculik bernegosiasi dengan keluarga korban untuk meminta uang tebusan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum proses pembebasan terjadi, komplotan penculik sempat meminta uang tebusan hingga Rp 1 miliar. Namun setelah bernegosiasi, akhirnya mereka sepakat uang tebusan Rp 700 juta. Setelah deal, akhirnya para penculik ini mengajak bertemu di kawasan Geurugok, Kecamatan Gandapura, Bireuen.
"Uang yang diserahkan keluarga korban ke penculik kemarin sebesar Rp 680 juta. Jadi tidak sampai Rp 700 juta seperti yang diminta oleh penculik," jelas Kapolda.
Setelah keluarga korban menyerahkan uang dan penculik membebaskan sandera, polisi langsung melakukan penyergapan. Saat hendak ditangkap, satu orang di dalam mobil melepaskan tembakan ke arah polisi sehingga terjadi baku tembak selama 15 menit.
Dua penculik, smuhar dan Barmawi, tewas didor polisi. Dari tangan keduanya, polisi menyita barang bukti berupa satu pucuk senjata jenis SS1, satu pucuk pistol jenis FN, tujuh magasin SS1 dan satu magasin FN dan uang tebusan.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh, Kombes Nurfallah, mengatakan, penyerahan uang tebusan yang dilakukan keluarga korban merupakan settingan polisi. Sebelum bertemu dengan penculik, keluarga korban sudah berkoordinasi aparat penegak hukum.
"Jadi setelah uang diserahkan dan sandera dilepas kita langsung melakukan penyergapan. Tapi karena melawan terpaksa kita tembak," kata Nurfallah.
"Uang tebusan hanya satu menit berada di tangan pelaku," jelasnya.
(try/try)











































