Cerita Sendu Tenaga Ahli DPR, Kerja Prajurit Tak Dapat THR dan BPJS Kesehatan

Aditya Mardiastuti, - detikNews
Selasa, 02 Feb 2016 16:54 WIB
Foto: Aditya Mardiastuti/ Doni tenaga ahli
Jakarta - Menjadi Tenaga Ahli (TA) bukan suatu pekerjaan yang mudah. Meski tampak mendampingi anggota dewan rupanya mereka punya tugas yang tidak kenal waktu.

Hal ini dituturkan oleh salah satu TA dari Fraksi PKB. Pria yang tidak mau disebutkan namanya ini mengibaratkan dirinya bekerja layaknya prajurit.

"Ya, TA anggota full nemenin anggota. Kadang ketemu diskusi dengan anggota lain. Kalau misalnya mau diundang untuk pembicaraan revisi UU kita nggak bisa bilang waktu kerja kita udah habis. Kerja kita kan supporting system, kalau atasan butuh harus siap," ujar TA yang sudah bekerja selama dua periode ini kepada detikcom di Kompleks Parlemen, Selasa (2/2/2016).

Hal yang sama juga dituturkan Doni Gazali Munte (32) yang menjadi TA kader Gerindra. Pria lulusan Hubungan Internasional 2009 ini mengaku pekerjaan TA diharuskan kritis melihat fenomena yang berkaitan dengan mitra kerja mereka.

"Kalau job desc umum, tantangannya kita diminta bekerja cepat, kritis, fenomena tentang mitra apa aja," jelas Doni di Gedung Nusantara II.

Ia pun mengaku mengenal pekerjaan sebagai TA karena faktor koneksi. Ia mengenal anak dari anggota dewan yang merupakan rekan organisasinya.

"(saya) Ditarik langsung anggota, biasanya masing-masing fraksi ada kebijakan masing-masing. Kalau saya prosesnya kasih CV, pengalaman kerja (portofolio) dan foto kebetulan nggak pake tes," katanya.

Soal jam kerja sebagai TA ia mengaku jam kerjanya fleksibel menyesuaikan kegiatan anggota. Ia juga menceritakan bila dirinya tidak diwajibkan untuk masuk sebagai kader partai politik untuk bisa melamar TA.

"Setahu saya ada beberapa fraksi ada yang tidak mengharuskan. Saya belum diminta sebagai kartu anggota," bebernya.

Meski sempat menjabat sebagai kontraktor interior desain ia mengaku jurusan kuliahnya 'nyambung' dengan pekerjaannya saat ini. Meski syarat wajib untuk melamar TA minimal pendidikan S2, ia mengaku sedang melanjutkan pendidikannya.

"Saya punya basic HI jadi masih nyambung, sempet sekolah S2 di Universitas Pancasila," ungkapnya.

Gaji dengan angka Rp 9 juta memang yang membuatnya tergiur untuk menjadi TA. Ia mengaku tak ada potongan selain pajak penghasilan.

"Kalau gaji itu normal, sedihnya TA nggak bisa dapat THR, memang kita gaji yang diterima plek (sama). Kalau sakit sesudah jam 9 dan sebelum jam 3 sesuai jam buka klinik, karena kita nggak dapat BPJS Kesehatan, BPJS Tenaga Kerja," terangnya. (dra/dra)