"Perang di Jakarta itu perang gagasan dan relawan. Relawan ini bisa relawan online atau relawan offline, relawan yang dibentuk untuk sebagai perpanjangan tangan kandidat," kata Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes saat dihubungi Senin (1/2/2016) malam.
Menurut Arya, bakal cagub juga harus memperhatikan strategi kampanye yang dilakukan sesuai dengan ketertarikan pemilih. "Kampanye tidak bisa lagi menggunakan isu primordial, tapi kampanye harus lebih kreatif. Artinya harus menggunakan isu populer tapi bukan isu basi misal pendidikan gratis," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau gunakan isu pengalaman Ahok lebih diunggulkan karena dia punya pengalaman di Jakarta dan Belitung Timur. Isu korupsi juga jadi tidak menarik karena Ahok penerima Bung Hatta Anti-Corruption. Jadi kandidat harus masuk pada wilayah yang selama ini belum digarap Ahok, belum dilakukan Ahok belum dilakukan serius oleh Ahok," imbuh Arya.
Para penantang Ahok juga tak bisa sembarangan melakukan 'serangan' politik. Tanpa data dan riset, serangan ke Ahok malah bisa jadi blunder politik.
"Kalau kampanye tidak berbasis data dan riset, kandidat dan parpol pengusungnya tidak mampu secara scientific arah keinginan pemilih," ujar Arya.
Hingga saat ini baru Sandiaga Uno dan Ahdyaksa Dault yang sudah terang-terangan siap maju di Pilgub DKI. Sementara calon kuat seperti Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil belum mengambil keputusan.
Ahok dari hasil survei CSIS masih punya tingkat keterpilihan tertinggi yakni 45 persen. Sedangkan Ridwan Kamil berada di posisi kedua dengan tingkat elektabilitas 15,75 persen dan disusul Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebesar 7,75 persen. (fdn/erd)











































