Panas Jelang Pilgub DKI, Penantang Ahok Harus Segera Deklarasi

Panas Jelang Pilgub DKI, Penantang Ahok Harus Segera Deklarasi

Ferdinan - detikNews
Selasa, 02 Feb 2016 07:18 WIB
Panas Jelang Pilgub DKI, Penantang Ahok Harus Segera Deklarasi
Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Suhu politik jelang Pilgub DKI 2017 sudah mulai memanas. Sejumlah tokoh mulai digadang-gadang jadi penantang petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Ahok berdasarkan survei, saat ini masih berada di posisi atas dibanding sejumlah tokoh lainnya seperti Ridwan Kamil, Tri Rismaharini ataupun Adhyaksa Dault yang sudah lebih dulu mendeklarasikan jadi bakal kandidat gubernur DKI.  (Baca juga: Survei CSIS: Elektabilitas Ahok 45%, Ridwan Kamil 15,75%)

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyebut Ahok masih unggul--setidaknya dari hasil survei--karena masyarakat belum mendapatkan kepastian bakal calon yang akan maju.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ahok diuntungkan status incumbent dan belum ada kandidat definitif. Kandidat yang mau bertarung di Jakarta harus segera mendeklarasikan diri. Partai-partai harus membuka penjaringan bakal calon secara terbuka dengan melibatkan partisipasi publik. Kalau kandidat malu deklarasi atau penjaringan terbuka parpol belum ada, akan sangat susah melawan incumbent, ujar Arya saat dihubungi Senin (1/2/2016) malam.

Percepatan deklarasi ini menurut Arya bermanfaat bagi kandidat atau pun partai pengusungnya. Sebab tersisa banyak waktu untuk melakukan evaluasi dan mensosialisasikan kandidat.

"Harus cepat untuk mengevaluasi taktik kampanye, perlu cepat deklarasi agar publik punya pilihan. Jakarta memang harus dipimpin orang-orang yang terbaik, orang-orang yang punya potensial, punya kapasitas dan punya track record bagus harus didorong maju di Jakarta agar publik ada pilihan," sambungnya.

Ada dua hal penting yang harus dijaga kandidat dan parpol pengusung yakni mempertahankan loyalitas pemilih dan melakukan kampanye secara tepat. Menurut Arya, tipikal pemilih di Jakarta sangat dinamis karena itu kandidat harus memastikan kepercayaan pilihan terhadap dirinya tidak akan berganti.

"Loyalitas dijaga dengan menanamkan kesan yang kuat kepada pemilih baik dari sisi isu dan kampanye," sambung Arya.

Para bakal calon juga harus memperhatikan kampanye ke warga Jakarta. Dua segmen masyarakat menengah ke atas dan kalangan bawah memiliki ketertarikan pada isu sosial perkotaan yang berbeda.

"Kalangan masyarakat menengah ke atas tertarik isu transpransi, pemberantasan korupsi, pemerintahan yang bersih. Kalangan menegah ke bawah lebih tertarik isu kebutuhan dan kehidupan sehari-hari seperti kesehatan, pendidikan," papar Arya.

Selain itu usia sambung Arya juga jadi perhatian. Tokoh-tokoh muda dinilai lebih diminati menjadi pemimpin daerah.

"Orang memberi perhatian kepada kandidat-kandidat yang segar dan baru, termasuk baru mulai bertarung di Jakarta," sebutnya. (fdn/fdn)


Berita Terkait