Perelek, Solusi Subsidi Beras Ala Purwakarta

Perelek, Solusi Subsidi Beras Ala Purwakarta

Tri Ispranoto - detikNews
Senin, 01 Feb 2016 16:29 WIB
Perelek, Solusi Subsidi Beras Ala Purwakarta
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Purwakarta - Keberadaan beras sebagai makanan pokok orang Indonesia hingga kini belum bisa tergantikan. Banyaknya permintaan yang tidak dibanding dengan ketersediaan barang membuat masyarakat di beberapa daerah kesulitan mendapatkan beras karena mahal.

Namun hal itu tak akan terjadi di Kabupaten Purwakarta. Saat ini, Pemkab Purwakarta tengah membuat subsidi beras dari orang berkecukupan untuk diberikan pada masyarakat yang kurang mampu.

Program bernama perelek itu akan dilakukan oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Purwakarta dengan menyisihkan beras 1/4 gelas per hari atau sekitar satu liter per minggu. Beras itu akan dikumpulkan dalam sebuah tempat yang terbuat dari bambu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap harinya 1/4 gelas beras yang disisihkan oleh satu keluarga itu akan diambil oleh para ketua RT atau linmas untuk dikumpulkan. Selanjutnya para pengepul beras akan melaporkan hal tersebut melalui program E-Pabeasan yang terpusat pada website Pemkab Purwakarta.



"Melalui E-Pabeasan bisa terlihat mana daerah yang minim memberikan beras. Kemungkinan di situ ada yang membutuhkan subsidi beras. Nanti dicek dan beras yang terkumpul disalurkan ke sana," jelas Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, Senin (1/2/2016).

Jika nantinya kebutuhan masyarakat terhadap beras sudah terpenuhi maka beras yang dikumpulkan akan dijual. Sementara hasil penjualan beras tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti kelengkapan pos RW, pos ronda, atau aset lainnya.

"Atau kita juga bisa memberikan pada masyarakat di luar Purwakarta. Bisa itu karena mereka kekurangan beras atau masyarakat yang terkena musibah," kata pria yang akrab disapa Kang Dedi itu.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda, perelek merupakan kegiatan mengumpulkan beras yang dilakukan oleh masyarakat di setiap rumah dengan menggunakan tempat penampungan tertentu. Nantinya beras tersebut dikumpulkan untuk kegiatan masak saat ronda, hajatan, atau orang meninggal.

Perelek sendiri biasa digunakan sebagai bahasa kiasan saat seseorang menuangkan beras dalam tempat untuk menampungnya. Saat memasukkan beras ke dalam tempat penampungan yang biasa terbuat dari bambu itu biasa terdengar suara 'plerek plerek plerek' sehingga disebut beras perelek.

Saat ini, kegiatan perelek sudah mulai digalakkan kembali dengan keluarnya instruksi dari Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, agar masyarakat bisa menyisihkan beras demi membantu masyarakat lainnya yang bukan hanya berada dalam satu lingkungan.

Sementara E-Pabeasan dalam bahasa Indonesia berarti sebuah sistem elektronik yang memampangkan data mengenai ketersediaan beras yang diambil dari kegiatan perelek. Secara terpisah pabeasan sendiri berarti perberasan dalam bahasa Indonesia. (trw/trw)


Berita Terkait