"Di sana pantainya bagus dan lebih dekat lokasinya dibanding ke wilayah (Indonesia) timur," kata Madhonna Nur Aini, salah satu penggagas Jejak Langit, kepada detikcom.
Jejak Langit adalah komunitas yang terdiri dari pecinta astronomi dari berbagai wilayah Indonesia. Aktivitas kelompok ini lebih banyak di dunia maya, kecuali saat kopi darat untuk bersama-sama berburu fenomena astronomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengajak anggotanya, Jejak Langit juga membuka tur gerhana ke Belitung untuk masyarakat umum pada 8-10 Maret 2016. Ternyata animo masyarakat terhadap perjalanan itu sangat besar sampai harus membuat empat gelombang keberangkatan. "Total pesertanya sudah 84 orang," kata Madhonna.
Mereka yang mendaftar antara lain penggemar astronomi, astrografer alias fotografer pemotret fenomena astronomi, dan para backpacker. Ada juga ibu rumah tangga yang mengajak anaknya untuk belajar soal gerhana.
Diakuinya, tak banyak yang mendaftar saat awal mereka mengumumkan rencana pengamatan gerhana di Pantai Burung Mandi. Namun perlahan jumlahnya bertambah berkat setiap hari membahas soal gerhana lewat akun Twitter komunitas ini yang punya sekitar 30 ribu followers.
Pengurus Jejak Langit pun belajar bahwa mengenalkan astronomi, khususnya kepada remaja, harus memakai pendekatannya yang mengikuti tren. Madhonna mencontohkan, strategi mengadakan kontes selfie dengan tema gerhana ternyata sukses menyedot perhatian terhadap fenomena alam yang langka ini.
"Karena pengguna Twitter itu mayoritas remaja, kami buat lomba selfie," ujarnya. Pemenangnya mendapat kacamata gerhana yang dibuat sendiri oleh Jejak Langit.
Ulasan lengkap tentang gerhana matahari total bisa dibaca di sini.
(hri/hri)











































