"Saya anggap kecenderungan mendukung (pemerintah) baik asalkan amar makruf nahi munkar. Semua parlemen ini saya lihat tetap mengatakan kalau itu benar dikatakan benar, kalau keliru ya keliru. Kita tidak boleh membabi buta," ujar pria yang kerap disapa Akom tersebut di komplek DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (31/1/2016).
"Secara kultural Golkar tidak pernah beroposisi, Golkar dilahirkan untuk berkarya. Jadi pekerjaan mengkritik biarkan yang lain. Golkar enggak bakat. Oposisi di Indonesia enggak ada, kalaupun mau dipaksa oposisi namanya oposisi loyal, di mana yang salah dibilang salah," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau enggak ada yang kritik juga bahaya. Saya sampaikan, semua parpol di parlemen baik yang dalam pemerintahan maupun tidak seharusnya seperti itu. Jika memang keliru harus katakan itu keliru. Pemerintah juga jika membenarkan yang keliru itu tidak benar," terang Akom. (aws/erd)











































