KPAI Akan Panggil Pihak Sekolah, Usut Pelecehan Seks Bocah SD di Menteng

KPAI Akan Panggil Pihak Sekolah, Usut Pelecehan Seks Bocah SD di Menteng

Nur Khafifah - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2016 08:00 WIB
KPAI Akan Panggil Pihak Sekolah, Usut Pelecehan Seks Bocah SD di Menteng
Foto: dok. detikcom
Jakarta - Komisioner KPAI bidang pendidikan, Susanto mengatakan akan segera mengusut kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa 2 bocah SD di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. KPAI akan memanggil pihak sekolah untuk mengkonfirmasi aduan tersebut.

"Dalam waktu dekat KPAI akan panggil pihak sekolah untuk klarifikasi," ujar Susanto saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (30/1/2016).

Susanto mengatakan, KPAI masih akan mendalami kasus tersebut secara utuh. Jika ditemukan data dan fakta yang menguatkan terjadinya perlakuan eksploitasi seksual terhadap anak, maka KPAI akan menyerahkannya pada aparat penegak hukum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau memang terbukti, kami akan bawa ke proses hukum," ujarnya.

Sebelumnya, aduan tentang adanya pelecehan seksual tersebut dilaporkan oleh keluarga korban. Perwakilan keluarga, Heru, menyebut guru pria yang merupakan wali kelas anak mereka, JP, telah melakukan pelecehan seks sejak November 2015. Peristiwa tersebut baru diketahui oleh pihak keluarga karena anak mereka baru melaporkannya.

JP melancarkan aksinya dengan memanggil salah satu murid perempuan untuk maju ke depan membacakan soal ujian. Murid kelas 4 SD tersebut kemudian diminta untuk mendekat ke mejanya dan dipaksa memegangi alat kelamin JP hingga ejakulasi.

Kejadian tersebut dilakukan saat seluruh murid masih berada di dalam ruang kelas. Namun para murid lainnya tak ada yang menyadari hal itu lantaran tertutup taplak meja milik JP. Perbuatan tersebut terulang kembali beberapa kali hingga akhirnya korban menolak. JP lantas mencari mangsa baru yang juga duduk di kelas tersebut.

Dengan modus serupa, JP mendapatkan korban baru untuk memuaskan hawa nafsunya. Ia bahkan pernah meminta seluruh siswa keluar ruangan tersebut kecuali korban, dengan alasan mengerjakan tugas di luar. Sehingga JP lebih leluasa melancarkan aksinya.

"Ada siswa lain yang sempat melihat kejadian itu, karena dia diminta sama pelaku untuk memeriksa rapor murid lain," ujarnya.

JP juga menyediakan satu gelas kosong untuk menampung hasil ejakulasinya. "Ini kan berarti pelaku sudah merencanakan perbuatan bejatnya," ujar Heru.

(kff/jor)


Berita Terkait