"Kalau Pak Tantowi didukung senang saya. Tapi di Golkar (secara resmi) belum ada pembicaraan soal itu," ungkap Ade Komarudin di Gedung DPR, Kompleks Senayan, Jakarta, Jumat (29/1/2016).
Rasa senang pria yang akrab dipanggil Akom itu bukan hanya karena ia dan Tantowi sama-sama kader Golkar. Keduanya juga sama-sama berasal dari Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu organisasi pendiri partai pohon beringin itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Akom, pertimbangan Ical kepada Tantowi bukan tanpa alasan. Ia menilai anggota Komisi I tersebut memiliki kapabilitas serta integritas.
"Tantowi capable betul, dalam berbagai hal. Satu aja yang perlu: dipilih. Yang lain (Tantowi) sudah oke semua," tuturnya.
Lantas apakah Tantowi dianggap bisa menyaingi Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga akan maju dalam Pilgub 2017 nanti?
"Saya tidak bicara soal Pak Ahok, pak Ahok juga SOKSI soalnya. Mengapa pak Ahok bagus dan pak Tantowi bagus? Karena dua-duanya SOKSI. tinggal dipilih sama rakyat nggak?" jawab Akom.
Sebelumnya Ical menyebut sedang mempertimbangkan Tantowi untuk menjadi lawan untuk Ahok. Selain itu, Tantowi juga dipertimbangkan untuk maju sebagai cagub Banten.
"Kita nanti melihat, mana yang lebih mungkin Pak Tantowi kan penduduk Banten. Kemudian dia mencoba menjadi pimpinan dari daerah itu," ucap Ical, Kamis (28/1).
"Golkar belum mengambil keputusan apa-apa, apakah di Jawa Barat, di DKI, ataukah di Banten," lanjutnya.
Berdasarkan survei CSIS, elektabilitas Tantowi berada di nomor 6 dari 11 nama. Sementara Ahok berada di urutan pertama, kemudian disusul oleh Ridwan Kamil.
Sementara itu untuk survei popularitas cagub DKI versi CSIS, Tantowi berada di nomor dua setelah Ahok. Ia mengalahkan Ridwan Kamil dengan angka perolehan 81 persen. (ear/jor)











































