Di Kabupaten Bogor, Membuat e-KTP Mesti Banyak Bersabar

Herianto Batubara - detikNews
Kamis, 28 Jan 2016 16:14 WIB
Foto: Rangga Sencaya
Jakarta - Banyak curahan hati masyarakat tentang proses pembuatan e-KTP. Proses yang lama menjadi bahan utama aduan. Salah satunya ada beberapa warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang mengeluhkan.

Seperti yang dialami Febryan Ramadhan dalam penuturannya ke redaksi@detik.com, Kamis (28/1/2016). Warga Cibinong, ini membuat e-KTP 2013. Tak ada kabar, dia kemudian melakukan perekaman lagi pada September 2015.

"Akhirnya bulan September 2015 kemarin saya mendaftarkan diri untuk foto ulang e-KTP, itupun baru sekedar daftar. Saya baru kebagian jadwal untuk foto ulang tanggal 3 November 2015. Datang pukul 07.30 pagi di kantor kecamatan Cibinong sudah antrean ke 35," jelas dia.

Kemudian, saat hendak foto, dia ditanya oleh petugas apakah sudah pernah buat e-KTP sebelumnya. Febryan lalu mengaku pernah, petugas di kecamatan itu lalu mengecek dan data dia ada.

"Saya pun tidak jadi difoto ulang, lalu disini saya mendaftarkan nomor HP juga, katanya akan di SMS apabila sudah jadi, tapi tidak dijelaskan berapa lama perkiraannya. Ini sudah hampir 3 bulan tidak ada kabar lagi. KTP kertas saya pun kualitasnya jelek sekarang sudah luntur, alhasil untuk kegiatan administrasi di bank, ataupun pesan tiket kereta saya harus selalu memakai SIM," tutur febryan.

Demkian juga dialami Darson, warga Cileungsi. Pada Juni 2015 dia ikut perekaman e-KTP, dan baru menerima e-KTP pada Desember 2015. Setelah menunggu enam bulan, akhirnya dapat juga e-KTP.

"Namun ada kesalahan dalam penulisan alamat, karena alamat saya disingkat tapi dengan menghilangkan nomor rumah. Saya komplain untuk perbaikan, jawaban petugas bisa diperbaiki tapi perlu waktu lama. Kalau mau cepat saya diminta langsung ke Dinas Dukcapil di Cibinong. Akhirnya keesokan harinya saya memutuskan langsung ke Dinas Dukcapil karena waktu 6 bulan buat saya sudah sangat lama menunggu e-KTP saya jadi. Berdasarkan pengalaman tersebut saya pastikan bahwa tidak ada bisnis proses yang jelas dalam pembuatan e-KTP sehingga tidak dapat dipastikan standar waktu penyelesaiannya," tutur dia.

Esra juga menuturkan pengalaman serupa. Dia mesti menunggu giliran desa untuk perekaman foto. Kemudian, setelah dilakukan dia menunggu sampai tiga bulan.

"Di salah satu kecamatan, antar desa bergilir dalam proses foto. Masalahnya informasi mengenai jadwal desa tertentu tidak sampai ke penduduk. Pengumuman jadwal hanya ditempel di depan ruangan tempat foto di kantor kecamatan," imbuh Esra.

"Selesai foto, menurut petugas di kantor kecamatan, hasilnya akan dikirim oleh Disdukcapil kabupaten bogor dan itupun daftar penduduk yang sudah bisa ambil e-KTP diumumin hanya di kantor kecamatan. Sama  seperti pengumuman jadwal desa. Jadi, setelah foto, kami menunggu sampai kira-kira 3 bulan baru ke kantor kecamatan melihat daftar e-KTP yang telah dicetak," tutup dia.

(dra/dra)