"Beberapa operator enggak mau pasang GPS, kalau mereka enggak pasang GPS kita enggak bisa kontrol kecepatannya. Kalau ada GPS kan saya bisa tahu kalau melebihi kecepatan. Makanya sistem seperti itu yang bikin saya marah dan bertahun-tahun dibiarin," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (28/1/2016).
Selain itu, ada ketidaksesuaian antara jumlah bus yang tengah beroperasi dengan yang tertera di layar monitor sejumlah halte busway. Ahok pun kesal lantaran pihak TransJakarta tidak menjalankan keinginannya tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita mau kan ada GPS, terus kita minta perbaiki kontrak mereka enggak mau. Alasannya? Kamu kan enggak punya bus jadi takut kan sama dia gitu," kata Ahok.
Ahok pun meminta bantuan kepada pengembang aplikasi Go-Jek dan Qlue untuk memasangi GPS agar bus-bus TransJ bisa dipantau. "Saya sudah coba pasang, dia enggak mau pasang-pasang. Sekarang saya suruh Go-Jek bantuin dan kita ada Qlue yang transit itu yang saya mau suruh kembangin saja. Itu kan punya kita, kalau Go-Jek kan punya Go-Jek. Suruh kembangin saja, jadi kita bisa tahu persis," sambungnya.
Namun Ahok tetap berupaya membeli bus. Hal ini dimaksud agar bisa menambah pelayanan bagi warga Ibu Kota pengguna TransJ.
"Orang Jakarta juga enggak tahan kalau dia tahu bisa diperbaiki, makanya saya menempuh satu kebijakan saya enggak mau ngalah. Ya sudah ribut-ribut saja, tapi ke depannya lebih baik. Daripada kamu ngalah terus dikerjain ngapain gitu loh?" pungkasnya. (aws/rvk)











































