Kelompok Remaja di Denpasar ini Rangkul LGBT dan Berikan Bimbingan

Kelompok Remaja di Denpasar ini Rangkul LGBT dan Berikan Bimbingan

AN Uyung Pramudiarja - detikNews
Rabu, 27 Jan 2016 09:14 WIB
Kelompok Remaja di Denpasar ini Rangkul LGBT dan Berikan Bimbingan
Foto: uyung/detikcon
Denpasar - Perilaku seks yang tidak sehat punya dampak luas, terutama bagi kesehatan. Penularan penyakit, kehamilan tidak direncanakan dan bahkan aborsi tidak aman, merupakan dampak yang bisa berujung pada risiko kematian.

Sayangnya, informasi yang benar dan lengkap tentang seks kadang-kadang sulit diakses oleh remaja. Banyak remaja tumbuh di lingkungan yang mentabukan masalah ini, sehingga harus mencari tahu sendiri dari sumber-sumber yang tidak selalu bisa dipercaya. Informasi yang salah, akhirnya menjerumuskan mereka pada perilaku seks yang tidak sehat.

Hamil di luar nikah atau tertular infeksi menular seksual, hanya sebagian dari risiko yang harus ditanggung. Risiko lainnya adalah cemooh dan penghakiman dari lingkungan, yang membuat mereka semakin menarik diri dan kemudian terjerumus semakin jauh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekelompok remaja di Denpasar Bali merasa prihatin dengan kondisi ini, dan tergerak untuk memberikan pendampingan bagi para remaja. Tergabung dalam kelompok Kisara, singkatan dari Kita Sayang Remaja, para remaja ini aktif memberikan edukasi yang lengkap dan benar tentang kesehatan seksual dan reproduksi, sesuai dengan usianya.

"Yang aktif ada sekitar 50 remaja, usia 10-24 tahun. Tapi kalau lagi kumpul, banyak sekali karena kita tidak membatas-batasi," kata Koordinator Kisara, Ni Luh Eka Purniastiti saat ditemui di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Denpasar, baru-baru ini.

Selain memberikan penyuluhan pada rekan sebaya, Kisara juga menyediakan layanan kesehatan di klinik PKBI. Eka mengatakan, banyak remaja merasa tidak nyaman mendatangi klinik umum untuk konsultasi terkait kesehatan reproduksi. Di Kisara, mereka bisa memilih untuk konseling dengan rekan sebaya atau dengan dokter-dokter di klinik PKBI yang mereka klaim 'ramah remaja'.

Kisara juga memberikan pendampingan bagi kelompok berisiko, termasuk remaja LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, and Queer) yang belakangan ini banyak disorot. Bagi Eka, remaja LGBTIQ merupakan bagian dari keberagaman, yang harus dihormati dan dirangkul sebagaimana remaja yang lain agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tidak sehat.

"Kalau sampai ada menteri yang mencemooh, ya kami prihatin sih. Sisi positifnya, mungkin maksudnya biar remaja tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang, tapi di sisi lain ya itu menyakitkan," kata Eka, usai menerima kunjungan dari para delegasi ICFP (International Conference on Famuli Planning) 2016, pada Rabu (26/1/2016).

(up/dra)


Berita Terkait