Kepolisian bahkan menggelar patroli khusus untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menonton gerhana secara langsung. Patroli dilanjutkan hingga hari terjadinya gerhana demi mencegah masyarakat keluar rumah dan menonton gerhana. "Yang jelas pihak kami akan mengadakan patroli keliling dan pengarahan kepada masyarakat lebih gencar," kata Komandan Wilayah 96 Yogyakarta Kolonel (Pol.) Soeharsono ketika itu.
Kepala Kepolisian Dserah Jawa Tengah ketika itu, Mayjen (Pol.) JFR Montolalu bahkan menduga ada upaya kaum subversif yang ingin memanfaatkan momen gerhana. Hal senada juga disampaikan oleh Panitia Gerhana Matahari Total. "Bisa jadi usaha (kaca mata gerhana) ditunggangi oleh unsur subversif dengan tujuan untuk membutakan bangsa kita," kata dokter Bambang dari tim kesehatan Panitia Gerhana Matahari Total.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benarkah mata bisa menjadi buta karena melihat gerhana matahari total? Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan gerhana jika melihatnya dengan tata cara yang aman, maka tidak berbahaya.
Thomas meluruskan imbauan keliru pada 1983 yang malah melarang melihat gerhana matahari total pada saat puncaknya. "Saat gerhana matahari totalnya, justru bisa melihat langsung, kita nikmati tanpa dihalangi kacamata atau filter," ujarnya.
Namun ia mengingatkan agar berhati-hati ketika melihat gerhana. Thomas menjelaskan, ketika matahari tertutup bulan dan langit menjadi gelap, maka pupil mata membesar. Ia mengingatkan, jangan terlalu asik melihat gerhana karena ketika bulan mulai bergerak, maka piringan matahari yang terang itu akan menyilaukan sekali padahal pupil mata sedang membesar. "Itu yang bisa merusak retina mata, embutakan itu pada saat peralihan dari gelap ke terang. Matahari walaupun cahaya sedikit itu pasti menyilaukan," ujarnya.
![]() |
(okt/okt)











































