Para pendatang akhirnya diundang makan siang dan diajak bercakap-cakap santai. Apapun tentang Uni Emirat Arab boleh diperbincangkan. Mulai topik gaya hidup sampai yang berat seperti politik. Undangan makan siang tersebut akhirnya menjadi rutinitas dan kian banyak yang tertarik. Apalagi beberapa tahun terakhir ketika banyak media Barat menjadikan topik Timur Tengah sebagai headline. Tak hanya para pekerja asing, wisatawan yang hanya singgah beberapa hari juga berminat dengan model edukasi informal yang diselingi makan siang itu.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karpet dengan alas duduk menghampar di tengah ruangan. Wadah-wadah makanan juga sudah disiapkan. "Selamat siang, nama saya Dahlia. Saya menjadi relawan di sini sejak 5 tahun lalu. Sambil kita makan siang nanti, Anda bisa bertanya apa saja ke saya. Mulai dari budaya, agama, sampai politik. Bebas," tutur perempuan berusia 20-an itu membuka acara.
Dahlia lalu mempersilakan beberapa orang pria menyajikan kopi. Dan dimulailah sesi edukasi. Dahlia yang sejak kecil sudah memiliki guru Bahasa Inggris menjelaskan di Arab ada tradisi menyajikan kopi sebagai tanda penghargaan kepada tamu. Dan sebagai gestur menghargai tuan rumah, kopi tersebut harus dihabiskan.
Kenapa pria yang menyajikan kopi, lanjutnya, karena perempuan mendapat tempat yang terhormat di dalam keluarga. "Apakah Anda pernah melihat Ratu Elizabeth menyajikan teh? Tidak, karena ia sangat terhormat. Begitulah para pria di sini memperlakukan wanita," ucapnya seakan ingin membantah persepsi bahwa posisi perempuan di Timur Tengah ada di bawah lelaki.
![]() |
Usai minum kopi, tamu SMCCU dijelaskan tentang menu makanan yang disajikan. Ada nasi briyani, kari ayam dan kambing, salad, juga donat. Satu per satu tamu dipersilakan mengambil sendiri makanan dan diperkenankan untuk mengambil porsi tambahan jika kurang.
Sambil menyantap hidangan, tanya jawab dimulai. Tamu dari benua Amerika dan Eropa melontarkan beberapa pertanyaan. Mulai dari urusan status pernikahan, perjodohan, sampai urusan poligami.
Dahlia menyatakan dia belum menikah, tapi ingin menikah beberapa tahun mendatang. Ia tidak mengenal konsep pacaran karena tidak diperbolehkan oleh agama. Lalu bagaimana akan mendapatkan jodohnya nanti, Dahlia menggunakan analogi yang popular di kalangan Barat: ibarat situs online perjodohan.
Dahlia akan menyeleksi profil calon pasangannya dan meminta rekomendasi dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan kerabat.
"Sekiranya ada yang menarik perhatian, kami bertemu di rumah. Kami undang makan dan berbincang santai seperti hari ini. Tapi kalau tidak cocok ya sudah. Cari lagi. Jadi jangan bayangkan kami dipaksa menikah dan berisiko tidak bahagia. Keluarga saya tidak akan membiarkan saya celaka," paparnya disambut anggukan para tamu.
Lalu bagaimana dengan poligami? "Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki," tutur Dahlia mengutip ayat kitab suci Al-Quran.
Dahlia melanjutkan, ketika seorang pria ingin melakukan poligami, pastilah ia memiliki alasan yang sangat kuat. Misalnya dengan konflik yang sekarang terjadi di Suriah. Dalam situasi yang tidak kondusif, akan lebih baik bagi perempuan untuk menjadi istri seseorang dibanding menjadi seorang budak atau simpanan. Dalam Islam, dengan berstatus istri, seorang perempuan memiliki hak. Bahkan hak untuk bercerai dan mendapat santunan dari mantan suaminya.
Ine Yordenaya/detikcom |
Seluruh tamu mengangguk mendengar penjelasan Dahlia. Tak ada bantahan atau interupsi ketika perempuan dengan enam saudara kandung itu bertutur.
"Jadi ada alasan agama di balik keputusan poligami. Tak sekadar ingin memuaskan nafsu seksual. Kami orang Arab tak segila seperti yang kalian lihat di TV," ucap Dahlia disambut gelak tawa para tamu.
Mendengar tutur kata Dahlia yang berusaha menjelaskan keyakinannya tanpa berusaha memaksa agar orang lain ikut mengubah pendiriannya sangat menenangkan hati. Tak ada kesan menggurui apalagi menghakimi.
"Kami hanya ingin mewujudkan kehidupan penuh toleransi, saling memahami dan menghormati satu sama lain. To you is your religion, to my is mine," tambahnya.
Ajang makan siang sambil bincang-bincang ini terbuka untuk umum setiap hari Minggu dan Selasa pukul 13.00 waktu setempat. Biayanya 90 dirham per orang atau sekitar Rp 350 ribu. Pastikan reservasi dulu beberapa hari sebelumnya karena tempat terbatas dan peminatnya sangat banyak. (iny/nrl)













































Ine Yordenaya/detikcom