Pius Lustrilanang Bergabung ke Gerakan Pembaruan PDIP
Selasa, 08 Mar 2005 15:41 WIB
Jakarta - Gerakan pembaruan PDIP yang sempat mendapat penolakan di Surabaya, ternyata mendapat sambutan hangat di wilayah lain. Diantaranya deklarasi di berbagai daerah lain terus bermunculan, termasuk bergabungnya mantan aktivis Pius Lustrilanang yang kini menjadi Panglima Brigade Siaga Satu (Brigas).Bergabungnya Pius ke dalam gerbong gerakan pembaruan PDIP ini telah didengungkan dalam deklarasi Gerakan Pembaruan PDIPerjuangan di GOR Pajajaran, Bogor, Sabtu (5/3/2005) dan Bandung, Minggu (6/3/2005). "Deklarasi Gerakan Pembaruan berikutnya akan dilangsungkan di Demak, JawaTengah, pada hari Minggu (13/3/2005). Deklarasi ini kemungkinan akan dihadiri sekitar seribu massa" kata Pius Lustrilanang saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon seluler, Selasa (8/3/2005).Lebih lanjut, Pius mengatakan, gerakan pembaruan PDIP ini mengusung tiga prioritas utama pembaruan yang harus segera diterapkan dalam PDI Perjuangan agar partai ini tidak ditinggalkan pendukungnya. Pertama, PDI Perjuangan harus mencabut hak prerogatif ketua umum, kedua, siapapun ketua umum yang terpilih harus muncul dari sebuah pemilihan bukan pemaksaan pada calon tunggal, ketiga, ketua umum terpilih nanti tidak boleh menentukan sendiri susunan pengurus DPPnya."Kita menolak formatur tunggal, karena formatur tunggal itu punya potensi untuk menafikkanelemen-elemen lain yang sudah membangun partai" papar Pius. Mantan aktivis Aldera ini juga menambahkan pembaruan merupakan prioritas utama selain ketua umum. Pembaruan seperti apa yang diinginkan? Pius beserta massa yang dibawanya menginginkan agar partai initidak terjebak dalam feodalisme. Karena yang terjadi selama ini adalah loyaliltas kepada atasan sertafaktor keturunan. "Jadi keadaan itu bisa dilihat dalam proses pengajuan calon legislatif kemarin, nepotismesangat kental sekali, jadi ini sudah kaya CV bukan partai" berangnya.Pius juga menginginkan komposisi DPP harus mencerminkan kehendak anggota serta proses regenerasiyang berkesinambungan. "Untuk komposisi DPP generasi tua hanya boleh memperoleh 20% saja, sedangkan orang-orang mudanya sebanyak 80%, karena orang tua ini sudah malas berpikir dan malas bergerak serta tidak punya waktu, kurang bertenaga sehingga menjadi kurang produktif. Sebaiknya generasi tua ini mundur kebelakang, dan untuk memimpin partai minimal 10 tahun lebih muda dari yang sekarang" Jelas Pius dengan semangat.Pius juga menyatakan kereta pembaruan ini kemungkinan tidak akan mendukung Megawati untuk kongres di Bali nanti. "Gerakan ini dilakukan untuk melakukan koreksi-koreksi internal terhadap manajemen internalyang selama ini bersifat otoriter menjadi demokratis, karena PDI Perjuangan tanpa disadari telah mengadopsi gaya kepemimpinan orde baru" ungkapnya.
(jon/)











































