Pengamat sosial dari UI Devie Rahmawati menyebut kelompok LGBT lebih terbuka pada era saat ini lantaran 'kesuksesan' budaya populer yang berkembang belakangan ini. Devie menyebut media mempunyai peranan penting yang memberikan kelompok tersebut kepercayaan diri yang tinggi untuk lebih terbuka.
"Kehadiran teman-teman yang memiliki orientasi seksual berbeda itu tidak lepas dari 'kesuksesan' budaya populer seperti film dan lagu. Apa yang kemudian ditampilkan di media sebagai kebenaran membuat banyak orang yang men-declare dengan berani, menjadi percaya diri yang tinggi," ucap Devie ketika berbincang, Minggu (24/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang sudah terjadi pergeseran sosial di mana di masa lalu orang hidup di desa, tradisional, lingkungan ditinggali dengan orang yang dekat. Ketika kemudian trennya dari desa menjadi kota akan berbeda, orang satu tidak saling kenal, orang hidup dengan individualisme, tidak mau mengurusi orang lain. Model hidup tersebut membuat kelompok itu merasa tenang melakukan apa pun di lingkungan mereka atau di luar," ucap Devie.
Faktor lain yaitu mulai lemahnya norma-norma yang membuat kelompok tersebut makin subur. Lagi-lagi, Devie menyebut budaya Barat yang semakin mengglobal menjadi tantangan.
"Tidak terikat lagi dalam norma sosial di masa lalu. Lemahnya norma sosial di kota, muncul individu tadi," kata Devie.
Meskipun demikian, Devie menyebut kelompok LGBT tetaplah sebagai kelompok minoritas di Indonesia. Kelompok minoritas sering mendapat resistensi dari masyarakat.
"Mereka ini minoritas. Kan tidak cuma di Jakarta, di daerah-daerah dan resistensi yang kuat di daerah selalu ada. Namun kembali lagi ke masyarakat, publik kita ingin bagaimana, apa ingin budaya Barat atau bagaimana. Pemerintah pasti berkaca pada masyarakat," pungkas Devie.
Sosiolog UI Tamrin Amal Tomagola PhD memiliki pandangan tegas. Dia menyebut kelompok tersebut perlu mendapatkan dukungan. Menurut Tamrin, kelompok LGBT merupakan kelompok yang terpinggirkan dan perlu didampingi agar tidak kemudian mengganggu ketertiban di masyarakat lantaran tertekan.
"Lumrah itu dengan mendukung kelompok yang termarjinalkan dan terpinggirkan. Dengan diskriminasi yang kuat nanti berdampak pada psikologi malah. Perlu adanya dukungan juga agar tidak stres nantinya dengan tekanan-tekanan," sebut Tamrin saat dihubungi terpisah. (dhn/nrl)











































