"Saya kemarin memang sedang acara ke luar kota dan saya ke Jawa Tengah. Saya juga kurang inilah hadir karena pernyataan Nurdin cs yang menghantam kami Wantim, menegur kami Wantim dan secara eksplisit juga menyebut nama saya sebagai Ketua Wantim. Apa salahnya Wantim memberikan pertimbangan," kata Akbar dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (24/1/2016).
Tentang rencana Ical menggelar Munaslub, Akbar menuturkan, dirinya mendukung sepenuhnya. Apalagi itu juga yang direkomendasikan Wantim, meski kala itu Ical cs menolak, bahkan Nurdin Halid cs memberikan teguran kepada dirinya.
"Oh iya dong kan memang kami dari wantim kan juga itu yang kami sarankan, cuma orang-orang Aburizal itu apriori saja terhadap saran yang kami sampaikan, sampai ketika rapat mahkamah partai bersidang, diktum pertama dikatakan tidak ada Munaslub atau Munas sampai dengan 2019, butir kedua memberikan teguran kepada ketua wantim terhadap pernyataannya yang mengarah kepada munas dan munaslub," ungkap Akbar.
Namun Akbar berusaha tak menaruh dendam gara-gara sanksi itu. Lalu bagaimana dengan gelagat Ical akan mengambil kursi Ketua Wantim pasca Munaslub?
"Ya itu kita serahkan kepada munas nah, itu ada aturan mainannya. Kalau terbukti memberikan prestasi dedikasi dan loyalitas ya bisa saja. Nanti di Munas ketum harus mempertanggungjawabkan, diterima atau tidak tergantung peserta Munas," pungkasnya. (van/nrl)











































