Organda Jakarta Pecah, Pembahasan Tarif Angkot Molor

Organda Jakarta Pecah, Pembahasan Tarif Angkot Molor

- detikNews
Selasa, 08 Mar 2005 13:15 WIB
Jakarta - Organisasi para pengusaha angkutan di Jakarta, Organda DKI Jakarta, pecah jadi dua kubu. Satu kubu dipimpin Herry JC Rotty, kubu lainnya dipimpin Aip Syarifuddin.Perpecahan Organda cukup merepotkan di musim kenaikan tarif angkot sekarang ini. Pasalnya, kubu Herry JC Rotty diajak Gubernur Sutiyoso membahas tarif angkot pada Senin kemarin. Organda versi Herry inilah yang diakui oleh Sutiyoso, sehingga diajak mengambil kebijakan.Dari hasil rapat dengan Organda, akhirnya disepakati kenaikan tarif berkisar 6-10%. Ini jauh dari usulan Herry cs yang minta kenaikan hingga 50%. Nah, Gubernur lantas mengirimkan hasil kesepakatan itu ke DPRD DKI Jakarta untuk dibahas. Sedangkan Organda pimpinan Aip tak diundang.Selasa (8/3/2005), DPRD DKI membahas usulan Gubernur itu. Rapat digelar di ruang pimpinan dihadiri Ketua DPRD Ade Surapriatna dan ketua 7 fraksi serta Komisi C dan D. Tengah asyik-asyiknya membahas eh tiba-tiba muncul kegaduhan dari luar ruangan. Rapat buru-buru diskorsking.Pembuat kegaduhan itu rupanya 30-an pengusaha angkutan Jakarta yang dipimpin Aip Syarifuddin. Mereka ingin menyampaikan aspirasi. Mereka tak setuju jika angkot cuma dinaikkan 6-10%. Mereka minta hingga 29%.Akhirnya, pimpinan DPRD pun menerima 30-an pengusaha itu. Nur Usman, Ketua Unit Bus Kota DKI Organda versi Aip menuturkan, tarif angkot usulan mereka adalah bus reguler dari Rp 1.100 naik menjadi Rp 2.035,84. Bus Patas Rp 1.400 menjadi Rp 2.893,45. Bus sedang dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.081,23. Bus Patas AC dari Rp 3.300 menjadi Rp 4.983,006. Mikrolet naik Rp 500 menjadi Rp 2.100.Pengusaha Mikrolet, Ramli, menyampaikan aspirasinya dengan nada tinggi. "Sejak awal kenaikan BBM 1 Maret lalu, kami sudah naikkan tarif Rp 500. Makanya kami sepakat tetap naikkan Rp 500," tegasnya."Harga ikan naik, apa-apa naik. Sebelum BBM naik, semua sudah naik. BBM naik, semuanya naik lagi. Pemerintah sudah menaikkan BBM 3 kali, kami tak pernah naikkan tarif," imbuhnya, masih dengan nada tinggi. Ketika diminta agar tidak emosional, Ramli mengaku itu memang gaya bicaranya.Pengusaha bus Kopaja, Tarigan, kecewa dengan usulan kenaikan tarif yang hanya 6-10%. "Kenaikan tak sesuai dengan yang kami harapkan. Naiknya cuma Rp 130. Kami sesali bagaimana Dewan Transportsi Kota DKI bisa memutuskan kenaikan serendah ini," keluhnya.Pengusaha Mikrolet lainnya, Hizar Gultom, menyatakan, kenaikan yang sekarang hanya Rp 100-200 atau 65 sen, tidak memiliki arti. "Lebih baik tidak naik," sesalnya.Sedangkan pengusaha taksi dalam audiensi itu mengusulkan kenaikan tarif sekali buka pintu Rp 5.700 dari Rp 3.000 dan Rp 1.800-2.400/km. Usulan disampaikan pengusaha Taksiku, Priyatmedi."Kami akan memperhatikan usulan Bapak-bapak. Kami sekarang akan membahasnya," jawab Ketua DPRD Ade Surapriatna. Setelah itu, rombongan pengusaha angkot pimpinan Aip pun balik kanan. Buntutnya, persetujuan terhadap kenaikan tarif angkot yang diusulkan Gubernur pun molor dari rencana.Menurut rencana, DPRD menyelesaikan pembahasan usulan itu sebelum pukul 13.00 WIB. Tapi karena ada tamu dadakan itu, pembahasan pun terhalang. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads