Kisruh Ambalat (3)
Saling Tunggu Tembakan Lawan
Selasa, 08 Mar 2005 11:08 WIB
Jakarta - Militer Malaysia berkali-kali melakukan pelanggaran batas wilayah Indonesia di perairan Ambalat, bagian timur Kalimantan. Banyak pihak mengharapkan TNI dapat dan berani mengambil sikap tegas.Seperti diberitakan, Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) beberapa kali melakukan provokasi dengan memasuki wilayah Indonesia di Laut Sulawesi. Pesawat pengintai maritim Malaysia jenis Beech Craft B 200 T Super King melakukan manuver sebanyak enam kali di wilayah Indonesia kemarin. Pesawat itu muncul di wilayah RI pada pagi hari Minggu (6/3/2005) pukul 07.45 hingga sekitar pukul 08.00 di perairan Karang Unarang, Laut Sulawesi.Kepala Staf Gugus Tempur Laut RI Kawasan Timur, Kolonel Laut Marsetio mengungkapkan, sebelum pesawat Super King Malaysia itu bermanuver, sekitar pukul 07.30 juga muncul kapal perang TLDM KD Kerambit. Sehari sebelumnya KD Kerambit juga melakukan pelanggaran teritorial. Kemudian setelah pukul 07.30 muncul pula kapal patroli laut Kepolisian Diraja Malaysia dengan jarak yang tak jauh dari KD Kerambit.Saat pelanggaran itu terjadi, Kapal Perang RI (KRI) Nuku sudah berada di sebelah timur Karang Unarang dengan jarak sekitar enam nautikal mil dari KD Kerambit. Jajaran TNI AL sendiri mengaku tidak tahu maksud dari tindakan TLDM yang mengitari Karang Unarang itu.Sebenarnya bukan hanya itu pelanggaran yang dilakukan Malaysia. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa mengatakan, Malaysia telah seringkali melakukan pelanggaran di sekitar perairan tersebut. Marty mencontohkan, September 2003 Malaysia melakukan survai seismik di blok yang disebut Malaysia blok Y dan Z, di wilayah maritim paling timur pantai Kalimantan Timur.Kemudian Juni 2004, polisi laut Tawau melakukan latihan menembak di perairan Sipadan dan Ligitan yang termasuk wilayah perairan Indonesia. Pada Januari juga ada pelanggaran kewilayahan oleh kapal laut bernama Sri Malaka, yang melakukan pengejaran dan penembakan terhadap KM Jaya Sakti, KM Wahyu, dan KM Irwan milik Indonesia, di sekitar perairan Kaltim. Belum lagi penangkapan dan penyiksaan yang diterima beberapa tenaga kerja dari Dephub dan sebuah kontraktor dari tentara Malaysia. Saat itu mereka tengah membangun mercu suar di Karang Unarang.Yang jelas, saat ini buntut berbagai peristiwa itu ketegangan antara kekuatan militer kedua negara nampaknya semakin menjadi. TNI AL bakal terus menambah kekuatannya di wilayah tersebut dari tiga menjadi tujuh kapal perang, mulai dari kelas parchim hingga fregat ke daerah perbatasan. Setiap armada Malaysia yang berani memasuki wilayah kedaulatan Indonesia akan ditindak tegas meski upaya diplomasi tetap dikedepankan.Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Madya Slamet Soebijanto saat berkunjung ke Pelabuhan Tarakan, Kalimantan Timur menegaskan, TNI AL akan mengintensifkan patroli di wilayah yang diklaim oleh Malaysia itu. Bahkan patroli kini sudah dilakukan mendekati batas wilayah Malaysia. Kedatangan Slamet ke Tarakan sendiri dalam rangka memeriksa kesiapan persenjataan KRI yang mendukung operasi tersebut, antara lain KRI Wiratno.Pengamat politik CSIS, Begi Hersutanto menyambut positif kebijakan yang ditempuh TNI AL. Menurut Begi, sesuai konvensi hukum laut menyatakan klaim suatu negara atas suatu wilayah harus ditunjang dengan kehadiran yang nyata. Kehadiran nyata itu bisa dalam bentuk okupasi kontroling di wilayah yang mendapat ancaman.Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan sebagai negara maritim Indonesia membutuhkan angkatan laut yang kuat. Sebagai negara maritim Indonesia harus memiliki angkatan laut yang tangguh di titik-titik terluar perbatasan.Dibandingkan dengan TLDM, perlengkapan yang dimiliki oleh TNI AL kemungkinan lebih usang. Namun demikian, kata Begi, dari sisi skill dan jumlah pasukan Indonesia di atas militer Malaysia.Pendapat tersebut diamini oleh pengamat militer lainnya, MT Arifin. Menurut MT Arifin, dari sisi kemampuan personel TNI memiliki kemampuan di atas militer Malaysia. Dari sisi teritorial, TNI AL juga diyakini memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan TLDM.Arifin sendiri yakin, meksi kekuatan militer kedua negara sudah mulai saling unjuk gigi perang terbuka tidak akan segera terjadi. Kedua negara akan tetap mencoba menahan diri untuk tidak memulai pertempuran. Baik TNI AL maupun TLDM hanya ingin menunjukkan diri lebih kuat satu dari yang lainnya."Selain itu bila salah satu pihak melepaskan tembakan lebih dulu maka itu akan menjadi sorotan internasional. Hal ini membuat masing-masing pihak saling menjaga. Yang jelas kalau sudah unjuk kekuatan mereka akan terus mencoba memanas-manasi," ungkap Arifin.Soal tuduhan melanggar batas wilayah ini Malaysia sendiri tidak tinggal dia. Bahkan sebaliknya, Malaysia justru menuduh Indonesia yang melakukan pelanggaran tersebut. Hal itu tertuang dalam nota keberatan yang dilayangkan Menlu Malaysia Datuk Seri Syed Hamid Albar kepada pemerintah Indonesia.Dia menyebut bahwa armada Indonesia itu memasuki wilayah Malaysia hampir 8 nautikal mil melewati perairan Batuan Unarang dekat Pulau Sebatik di Laut Sulawesi. "Saya telah diberi informasi atas insiden yang terjadi Sabtu lalu. Kami telah mengirimkan nota protes pada Indonesia. Reaksi Jakarta diperkirakan tak baik," katanya.Hamid Albar menyatakan, AL Kerajaan Malaysia telah menempatkan dua kapal perang di perairan yang diperebutkan. Kapal itu hanya ditugaskan untuk memonitor situasi dan berpatroli dalam perairan Malaysia. Malaysia tidak ingin melakukan sesuatu kemungkinan yang tidak menguntungkan. TLDM hanya diperintah untuk melindungi teritori Malaysia dan tidak melakukan konfrontasi.
(djo/)











































