Media RI Ribut Ambalat, Media Malaysia Ribut TKI
Selasa, 08 Mar 2005 09:57 WIB
Jakarta - Terhitung Senin kemarin (7/3), media massa nasional serempak menjadikan Ambalat sebagai headline utama. Selasa ini (8/3/2005) Ambalat masih bertahan di halaman satu. Sebaliknya, media massa Malaysia santai-santai saja.Coba buka koran-koran terbitan ibukota hari ini. Harian Kompas misalnya, memasang headline "Presiden Tinjau Perbatasan RI-Malaysia". Item yang berkaitan dengan Ambalat lainnya misalnya "Menlu RI dan Menlu Malaysia Bertemu 9-10 Maret" juga diletakkan di halaman utama.Di halaman internasional, Kompas menurunkan tulisan dengan tema serupa berjudul "Batas Laut Indonesia-Malaysia Pasca-Sipadan dan Ligitan".Di halaman opini yang berisi artikel kiriman pembaca, Kompas menurunkan dua judul yaitu "Ambalat, Milik Siapa?" dan "Ambalat dan Urgensi Pengelolaan Pulau". Bahkan tajuk rencana harian terkemuka ini tak kalah patriotiknya, "Bagaimana Mungkin Malaysia Pun Melecehkan Kita?!" Secara keseluruhan, porsi isu Ambalat di Kompas cukup -- atau sangat -- banyak.Sekarang buka harian Media Indonesia yang satu grup dengan MetroTV milik Surya Paloh. Headline koran ini berjudul "Ambalat Siaga Tempur, Badawi Telepon SBY". Di halaman 7, harian ini menulis berita "Dewan Minta Pemerintah Tegas terhadap Malaysia", lengkap dengan diagram kekuatan TNI AU di Madiun. Di sampingnya ada berita "Elemen Masyarakat Gelar Demo Dukung Kedaulatan NKRI".Harian Republika juga turut meramaikan Ambalat dengan berita utama "Badawi Kontak SBY". Tiga perempat halaman pertama koran itu berisi isu Ambalat. Dua artikel halaman opininya juga membahas soal Ambalat. Sementara, harian Indopos memasang headline "TNI AU Persenjatai 18 Hawk dan berita printilannya dengan tema serupa, termasuk tulisan di Jati Diri, sebangsa Tajuk Rencana.Koran Tempo menurunkan berita utama "Malaysia Berkukuh" lengkap dengan perbandingan kekuatan bersenjata Malaysia dan Indonesia. Harian Rakyat Merdeka juga memasang headline serupa, tapi mengaitkan dengan BBM. Judulnya,"Ambalat Sukses Tenggelamkan BBM". Secara umum, foto Presiden SBY tengah kunjungan dinas ke Kalimantan Timur, menjadi foto utama koran-koran ibukota hari ini.Malaysia Tonjolkan TKI"Garang"-nya pemberitaan tentang Ambalat tidak tampak di media Malaysia. Harian Malaysia berbahasa Inggris The Star misalnya, dalam edisi onlinenya, hanya memasang 1 berita tentang krisis Ambalat. Judulnya, "Malaysia and Indonesia to hold talks on territorial claims".Isinya pun biasa-biasa saja, hanya mengungkapkan bahwa pemimpin Indonesia-Malaysia sepakat mendiskusikan Ambalat. Tidak ada pendapat keras anggota parlemen, apalagi berita soal pembukaan posko seperti Ganyang Indonesia. Tulisan kedua soal Ambalat berjudul "PM: Oil blocks within Malaysia."Sedangkan judul-judul berita lainnya lebih menyoroti soal Operasi Tegas yang tengah mensweeping para tenaga kerja ilegal termasuk TKI. Judul-judul berita dengan tema seperti itu cukup banyak, seperti "Indon minister holds meeting over delays"; "Behave yourselves, Noh warns foreign workers"; "Farmer suffering big losses due to lack of workers"; "Oil palm industry badly hit by labour shortage"; "No case of officials abusing the illegals"; "Ensuring amnesty stamp is kept safe"; "DPM: But we cannot wait too long for Indons to return", dsb.Sekarang media New Straits Times, yang juga berbahasa Inggris. Berita utama media itu bertajuk "NO CONFRONTATION Abdullah and Susilo agree to ease tensions through diplomacy". Sedangkan berita lainnya, juga lebih banyak menyoroti soal Operasi Tegas. Misalnya berita berjudul "FOREIGN WORKERS: DPM: Speed up approval"; "Employers: Shortage of workers causing losses" dan juga sidang penganiayaan TKW asal Indonesia "NIRMALA BONAT'S ABUSE CASE: Doctor: I didn't take clinical notes".Kita buka Utusan Online. Di halaman utamanya, media itu memasang sejumlah judul. Kasus Ambalat hanya diberi satu judul "Isu sempadan maritim: Susilo telefon PM". Sedang berita lainnya di halaman satu adalah soal TKI. Misalnya saja "Cari pekerja negara lain -- MEF minta kerajaan tidak terlalu bergantung kepada Indonesia"; "Najib: Kita ambil pekerja negara lain jika Indonesia lewat"; dan juga berita tentang TKI kita "Pembantu rumah dakwa patah kaki dipukul majikan".Kita buka arsip kantor berita Bernama yang bisa diklik di www.bernama.com. Lagi-lagi masalah Operasi Tegas menjadi berita idola. Misalnya berita berjudul "Warning To Foreign Workers Who Misbehave" dan "Stricter Health Checks For Indonesian Workers". Pada Senin kemarin, Bernama memasang berita "M'sian, Indon Foreign Ministers To Meet Over Sulawesi Sea Controversy".
(nrl/)











































