Komunitas Langit Selatan, Memburu Gerhana Matahari Total Hingga Halmahera

Gerhana Matahari Total di Indonesia

Komunitas Langit Selatan, Memburu Gerhana Matahari Total Hingga Halmahera

Erna Mardiana - detikNews
Rabu, 20 Jan 2016 14:33 WIB
Komunitas Langit Selatan, Memburu Gerhana Matahari Total Hingga Halmahera
Foto: Ilustrasi : Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Sinar matahari di pagi hari tiba-tiba akan hilang selama beberapa menit, langit yang tadinya terang akan berubah menjadi gelap. Fenomena ini akan terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016 mendatang.

Fenomena alam yang disebut dengan peristiwa gerhana matahari total ini menjadi momen yang istimewa dan langka karena hanya terjadi di Indonesia. Para peneliti dunia begitu antusias menunggu momen ini, tak terkecuali komunitas astronomi asal Bandung, Langit Selatan.

Astronom Komunikator Langit Selatan, Avivah Yamani, mengatakan sudah sejak 2014 mereka mempersiapkan datangnya gerhana matahari total. Mereka akan melakukan pengamatan di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara. Pengamatan dilakukan bersama dengan warga sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Wilayah itu (Maba) tepat dilintasi garis tengah totalitas. Puncak gerhananya juga paling lama, sekitar 3 menit 17 detik. Cuaca di sana diprediksi cerah. Ya mudah-mudahan sesuai prediksi," kata Avivah saat berbincang dengan detikcom di Cihampelas Walk beberapa waktu lalu.

Maba (Foto: Google map)


Avivah menambahkan kondisi  matahari di Maba saat terjadi gerhana juga berada di posisi yang cukup tinggi. Jika di bagian barat Indonesia gerhana total akan terjadi sekitar pukul 07.00 WIB maka di Maba, bagian Indonesia timur, puncak gerhana total terjadi pada pukul 10.00 WIT.

Selain pengamatan,  Langit Selatan juga akan memberikan edukasi tentang apa itu gerhana dan bagaimana cara aman melihatnya. "Rencananya akan ajak anak sekolah untuk bikin pengenalan gerhana matahari, pengamatan," ucap Avivah.

Avivah berbaju merah jambu (Foto: Dok Pribadi)


Menurut Avivah, gerhana matahari total terjadi setiap tahun namun daerah yang dilintasinya berganti-ganti. Untuk Indonesia gerhana akan terjadi lagi pada 2019, namun bukan gerhana total tetapi gerhana matahari cincin. Selanjutnya di tahun 2023 akan terjadi gerhana matahari total di NTB dan papua. Sementara jalur yang sama seperti 2016 ini akan terjadi kembali pada taun 2049 mendatang.

"2042 melintas Sumatera dan Kalimantan sedikit, lalu 25 November 2049 terjadi gerhana matahari hybrida yang artinya sebagian total, sebagian cincin," jelasnya.

(Baca Juga: Korona Matahari Hingga Efek Cincin Berlian, Keindahan yang Bisa Dilihat Saat Gerhana)

Fenomena gerhana di Indonesia ini juga mengundang para turis untuk datang ke Indonesia. Salah satunya adalah teman sesama astronom Langit Selatan. Avivah mengatakan mereka begitu antusias menyaksikan peristiwa alam yang langka dan indah ini.

"Ada teman juga dari Vietnam dan Filipina yang akan datang, mereka backpacker. Rencananya setelah mengamati gerhana, mereka akan main ke beberapa lokasi wisata di Indonesia," ucap Avivah.

Edukasi siswa tentang tata surya (Foto: Dok Langit Selatan)


Langit Selatan merupakan komunitas yang didirikan oleh anak-anak astronomi Institut Teknologi Bandung. Seiring berjalannya waktu komunitas ini juga diisi bukan hanya kalangan profesional dari pendidikan astronomi tetapi juga dari orang-orang yang hobi astronomi.

Konferensi astronomi Indonesia (Foto: Dok Langit Selatan)


Didirikan sejak tahun 2003, Langit Selatan awalnya bernama rigel centaurus artinya rasi centaurus, rasi yang khas di langit selatan.  Tujuannya agar orang awam bisa mengenal astronomi dengan mudah. Tahun 2006 baru berganti nama menjadi  Langit Selatan dan punya website bernama langitselatan.com.

"Kemudian berkembang, kita diminta untuk mengajar, diskusi, bikin kegiatan dan lainnya.  Kita juga kerjasama dengan salah satu mal di Bandung untuk memperkenalkan astronomi ke publik. Kita diperbolehkan simpan teleskop, di area mal, nah pengunjung mal bebas menggunakan teleskop untuk melihat matahari dan benda langit lainnya," papar Avivah.

Kegiatan di mal itu berlangsung sejak 2011 hingga awal 2012. Namun sejak itu hingga 2015, tidak pernah ada kegiatan lagi di mal karena faktor cuaca yang tidak mendukung. Selain itu pada 2009 Langit Selatan memantau gerhana matahari cincin di Lampung bekerjasama dengan Unila. Tahun 2012, memantau transit venus di Maluku, di Kota Ambon.

"Kita baru bisa saksikan transit venus 80 tahun hingga 100 tahun lagi," tutup Avivah.


Ilustrasi : Mindra Purnomo/detikcom
(slm/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads