"Saya harus mengakui bahwa butuh kerja sama erat karena banyak kepentingan di lahan gambut, baik itu ekonomi industri besar dan masayarakat sekitar, teman-teman NGO, masyarakat adat, masyarakat sipil dan pemerintah, juga ada kepentingan global," kata Nazir di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2016).
Dampak dari kebakaran lahan gambut tak hanya dirasakan oleh negara tetangga, tetapi juga belahan dunia lain. Itu karena gas karbon yang dilepaskan sangat besar, kata Nazir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk mencegah gambut tebakar lagi, gambutnya harus direstorasi agar airnya naik. Kalau gambutnya basah, enggak akan terbakar. Masyarakat harus dilibatkan langsung dalam kerja restorasi," kata Nazir.
Masyarakat harus dilibatkan untuk membangun DAM, sekat, atau pun kanal. Dengan demikian air yang ditampung akan terjaga sepanjang tahun.
Dia mengakui proses restorasi ini perlu waktu bertahun-tahun. Bahkan efek dari restorasi yang dimaksud ini baru akan terasa pada 2 hingga 3 tahun lagi.
"Kalau gambutnya sudah terkeringkan itu naik sampai gambutnya basah bisa butuh waktu bahkan 10 tahun. Sembari kita lakukan tindakan fisik, saya kira penting juga kita lakukan aktifitas sosialiasi agar gunakan api dalam buka lahan tak lagi dilakukan kalau itu bisa jalan dan industri beri dukungan penuh terhadap penggunaan yang non api dan membantu masyarakat," tutur pria yang meraih gelar sarjana dari Fakultas Kehutanan UGM ini. (bpn/rvk)










































