Kepala Badan Restorasi Gambut: Banyak Kepentingan di Lahan Gambut!

Kepala Badan Restorasi Gambut: Banyak Kepentingan di Lahan Gambut!

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 20 Jan 2016 14:24 WIB
Kepala Badan Restorasi Gambut: Banyak Kepentingan di Lahan Gambut!
Foto: Rusman/Setpres
Jakarta - Nazir Foead baru saja dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG). Nazir menyebut salah satu tantangan untuk merestorasi gambut yang rusak karena terbakar adalah banyaknya kepentingan.

"Saya harus mengakui bahwa butuh kerja sama erat karena banyak kepentingan di lahan gambut, baik itu ekonomi industri besar dan masayarakat sekitar, teman-teman NGO, masyarakat adat, masyarakat sipil dan pemerintah, juga ada kepentingan global," kata Nazir di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2016).

Dampak dari kebakaran lahan gambut tak hanya dirasakan oleh negara tetangga, tetapi juga belahan dunia lain. Itu karena gas karbon yang dilepaskan sangat besar, kata Nazir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu Nazir akan mengkoordinasikan agar ada kesamaan visi dengan para pemangku kepentingan yang disebutkan itu. Dia akan mengaplikasikan pengalamannya selama bekerja di WWF untuk merestorasi lahan gambut.

"Untuk mencegah gambut tebakar lagi, gambutnya harus direstorasi agar airnya naik. Kalau gambutnya basah, enggak akan terbakar. Masyarakat harus dilibatkan langsung dalam kerja restorasi," kata Nazir.

Masyarakat harus dilibatkan untuk membangun DAM, sekat, atau pun kanal. Dengan demikian air yang ditampung akan terjaga sepanjang tahun.

Dia mengakui proses restorasi ini perlu waktu bertahun-tahun. Bahkan efek dari restorasi yang dimaksud ini baru akan terasa pada 2 hingga 3 tahun lagi.

"Kalau gambutnya sudah terkeringkan itu naik sampai gambutnya basah bisa butuh waktu bahkan 10 tahun. Sembari kita lakukan tindakan fisik, saya kira penting juga kita lakukan aktifitas sosialiasi agar gunakan api dalam buka lahan tak lagi dilakukan kalau itu bisa jalan dan industri beri dukungan penuh terhadap penggunaan yang non api dan membantu masyarakat," tutur pria yang meraih gelar sarjana dari Fakultas Kehutanan UGM ini. (bpn/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini