Bom Thamrin yang terjadi pada Kamis 14 Januari itu mengakibatkan 34 orang menjadi korban. Empat orang diantaranya merupakan pelaku. Dari peristiwa tersebut, 8 orang di antaranya tewas dan lainnya luka-luka.
Β
Adi, Febi dan Selvi turut menjadi korban bom Thamrin. Mereka mengalami luka-luka akibat terkena serpihan bom. Ketiganya bersedia menceritakan kejadian menegangkan yang dialami.
Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Metro Jaya telah memberikan pelayanan medis bagi para korban. Selain itu, adaΒ konseling psikologi terhadap para korban pasca perawatan untuk para korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Meeting Mencekam Adi di Starbucks
|
Foto: dok. Polda Metro Jaya
|
Warga Bekasi, Jawa Barat ini mengaku berada tidak jauh dari lokasi bom yang meledak tak jauh dari toilet di dalam Starbucks.
"Sebelumya saya nggak merhatiin pengunjung lain. Nggak lihat pelakunya juga, sebelum ada kejadian masih ada yang duduk-duduk di bagian depan. Itu ada yang terluka juga. Saya pikir awalnya ledakan gas LPG. Suara dentuman kenceng, keluar asap, bergetar kencang, kuping saya terus mendengung. Awalnya saya nggak sadar itu bom. Sadar itu bom setelah di RS," ungkap Adi saat berbincang dengan detikcom, Senin (18/1/2015).
Adi sendiri mengalami luka bakar sedang akibat ledakan bom tersebut. Ia terluka di bagian kepala serta di lengan kanan. Pria berusia 33 tahun tersebut memarkir mobil di dekat lokasi bom bunuh diri terakhir. Beruntung ia sudah pergi sebelum bom diledakkan oleh 2 pelaku teror.
"Nggak pingsan, saya masih sadar. Habis ledakan saya lihat laptop saya sudah keluar api kayak pecah, asap di mana-mana. kaca-kaca pecah. Saya keluar lewat kaca yang pecah itu, yang ke arah Mal Sarinah," tutur Adi.
Setelah memastikan keadaan teman-temannya, Adi dan seorang klien kemudian memutuskan untuk ke RS MMC Kuningan bersama. Adi kini sudah diizinkan pulang dan berobat jalan.
2. Febi Kehilangan Mahkota
|
Foto: Mei Amelia
|
"Waktu kejadian itu saya ada di dalam Starbucks, saya ketemu sama sekuriti (salah satu korban). Saya duduk di sebelah kanan dari pintu masuk," ujar Febi di hadapan Musyafak, Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/1/2016).
Febi mengungkapkan, saat itu dirinya tengah menemui kliennya untuk membicarakan masalah bisnis. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ledakan di dalam kafe tersebut. "Saya saat itu langsung keluar dan pulang ke Kalimalang. Saat itu saya belum mengalami sakit, cuma baru menyadari rambut saya terbakar," ujar Febi sambil menunjukkan foto rambutnya yang terbakar ke Musyafak.
Rambut Febi tadinya kribo dan panjang Sebahu. Namun karena bagian atasnya terbakar, ia akhirnya memotong pendek rambutnya.
Pada malam harinya, Febi baru merasakan sakit pada kupingnya. Ia lalu berobat ke RS St. Carolous. "Ternyata gendang teling saya robek," lanjutnya.
3. Selvi dan Nasib Skripsi
|
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
|
Ibunda Selvi, Sifa, berada di sekitar lokasi ledakan pertama di Menara Cakrawala, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016) sore. Sifa menunggu diperbolehkan aparat masuk ke Starbucks yang menjadi sasaran teroris, untuk mengambil laptop putrinya yang menyimpan data draf skripsi.
"Putri saya jadi korban ledakan di situ," kata Sifa saat ditanya kisah putrinya.
Dia menuturkan, saat terjadi ledakan, Selvi sedang mengerjakan skripsi di Starbucks. Selvi duduk membelakangi dinding kaca yang menghadap ke Gedung Jaya.
Seorang saksi bernama Abi mengatakan ledakan pertama berasal dari luar Starbucks, ledakan kedua yang lebih kecil terjadi di dalam. Selvi, kata Sifa, terkena pecahan kaca dampak ledakan pertama.
"Anak saya kena pecahan kaca dari belakang. Setelah itu dia dievakuasi," tutur Sifa.
Selvi tak sadarkan diri, lalu dievakuasi. Barang-barangnya pun tertinggal di warung kopi asal AS itu. Kini Sifa berharap masih bisa menyelamatkan laptop yang menyimpan kerja keras putrinya untuk menyongsong masa depan.
Halaman 2 dari 4











































