Polly Dianggap Berbelit-belit, DPR Tidak Puas

Polly Dianggap Berbelit-belit, DPR Tidak Puas

- detikNews
Selasa, 08 Mar 2005 01:54 WIB
Jakarta - DPR tidak puas dengan jawaban Pollycapus Budihari Priyanto yang dianggap berbelit-belit terkait kasus meninggalnya Munir yang diduga diracun. Keterangan yang diberikan Polly dianggap sepertinya sudah dipersiapkan."Kami tidak puas dengan jawaban dari saudara Polly, karena sepertinya cukup ada 'persiapan' jawaban dari dia. Dari jawaban yang diberikannya sepertinya dia melindungi seseorang dan berlagak tidak pintar," tukas Slamet Effendy Yusuf dari Tim Investigasi DPR Kasus Munir.Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers usai rapat tertutup di Nusantara II Gedung DPR/MPR jalan Gatot Subroto Jakarta Pusat, Senin (7/3/2005). Agenda rapat untuk menindaklanjuti pertemuan dengan Dirut Garuda yang sebelumnya telah dilakukan.Slamet menuturkan, dalam pertemuan tadi pihaknya memberikan beberapa pertanyaan kepada Polly. Pertama, apa tugas Polly pergi ke Singapura pada malam itu. Kedua, secara umum apa tugas Polly sejak tanggal 11 Agustus 2004. Ketiga, apa yang dilakukan Polly dalam pergaulannya dengan beberapa orang di Jakarta. Keempat, tentang kjejadian-kejadian yang menimpa Polly seperti masalah tabrak lari yang pernah diderita oleh Polly.Dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan itu, menurut dia, Polly sebagai seorang pilot yang berpengalaman seharusnya memberikan jawaban dengan cerdas."Ketika kita tanya soal waktu saja, dia hanya menjawab malam hari atau sore hari, tidak menjawab jam berapa, seharusnya seorang pilot dapat lebih detail menerangkan soal waktu," tukas Slamet.Selain itu, lanjut dia, Polly juga mengaku telah meminta kepada salah seorang pramugari untuk memindahkan Munir dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Pramugari itu bernama Brahmani. Polly juga pernah bertemu dengan beberapa aktivis HAM di Jakarta, dan bahkan sudah sering melakukan kontak telepon dengan Hendardi.Slamet merasa aneh dengan tugas Polly ke Singapura sebagai Aviation Security itu dijalankannya hanya dengan melakukan pertemuan saja dengan teknisi Garuda yang ada di Singapura, tapi tidak melakukan pengecekan terhadap pesawat yang bersangkutan.Sebelumnya anggota tim lainnya Lukman Haklim Syaifuddin di sela-sela rapat juga mengeluhkan keterangan yang diberikan Polly sangat berbelit-belit."Yang kita tanya hanya apa yang dilakukan dia di Singapura jam per jam, tetapi dia tidak bisa jelaskan, lupa lah alasannya," tukasnya."Seharusnya untuk seorang pilot yang memiliki pengalaman di atas 11.000 jam penerbangan dari 20 tahun pengalamannya, dia seharusnya mengerti take off dan landing jam berapa jam berapa. Untuk soal ini kan masalah standar yang merupakan makanan dia sehari-hari," tambahnya.Lukman juga mengungkapkan Polly tidak bisa menggunakan komputer. Sebab surat keterangan yang diberikan itu hanya diketik dengan menggunakan mesin tik biasa."Hal ini tidak wajar karena pesawat-pesawat Boeing sekarang semua sudah computerized. Tapi Polly hanya menjawab, komputerisasi yang dipergunakan di pesawat itu tidak lah terlalu rumit," tutur Lukman.Walhasil, DPR belum bisa menyimpulkan apa-apa. Menurut rencana, tim akan bertemu langsung dengan atasan langsung dari Polly, yaitu Vice President Corporate Security Garuda Ramelgia Anwar, Direktur Operasional Garuda Rudi Hardono, dan Brahmani selaku pramugari yang pada saat itu langsung berinteraksi dengan Munir. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads