Rekonstruksi NOVA/NPS Belanda
Polly Mungkin Pembunuh Munir
Senin, 07 Mar 2005 17:50 WIB
Den Haag - Pilot Garuda yang diduga terkait dengan dinas rahasia BIN, Pollycarpus Budihari Priyanto, disebut sebagai kemungkinan pembunuh Munir. Pejabat Garuda disebut telah memberikan keterangan palsu. Sumber detikcom di parlemen Belanda akhir pekan (5/2/2005) kemarin, memberikan bahan rekonstruksi yang dibuat NOVA/NPS, terkait pembunuhan Munir yang hendak meneruskan studi di Universitas Utrecht. Rekonstruksi dimulai dari istri Munir, Suciwati, yang memaparkan kondisi Munir sebelum berangkat sehat wal afiat. "Tanggal 6/9/2004 baik-baik saja. Dia dalam keadaan sehat. Dia mau belajar ke Belanda, ke Universitas Utrecht (UU). Karena menunggu teman-teman yang mau ikut mengantarkan, di situ kita ke Dunkin Donat. Saya pesan susu, Munir pesan susu cokelat. Dia minum, separuhnya saya yang habisin. Kalau polisi mau menggiring-giring ke sebelumnya, pasti saya juga kena (terbunuh, red) dong," demikian keterangan Suci.Dari foto-foto Munir dan istri bersama-sama temannya ketika berada di Dunkin Donut, Bandara Soekarno Hatta, beberapa saat sebelum berangkat, terlihat suasana penuh keceriaan. Dari ekspresi Munir, terlihat kondisi pemuda ini sehat segar. Matanya berbinar, seolah menerjemahkan suasana hatinya yang bahagia menyambut peluang studi ke jenjang lebih tinggi di Belanda.Sampailah rekonstruksi ke pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto. Polly mengaku ketemu Munir dalam perjalanan ke Singapura. "Saya tanya... O, Pak Munir ya? Mau ke mana? O, ke Belanda ya. Dia bilang saya terakhir dari Ujung Pandang pesawatnya goyang terus. Tidak enak. Sempat dia bilang, Saya ini pobhia. Karena begitu, saya lalu menawarkan ke dia, ya kalau Bapak berkenan ya di depan (kelas bisnis, red) bisa. Saya tunjukkan seat saya, mungkin dia pilih di situ, karena tempatnya bagus sekali," ungkap Polly, menceritakan momen pertemuannya dengan aktivis HAM itu.Beberapa pernyataan tersebut, terutama yang menyebut Munir phobia, disanggah oleh Suciwati. "Bulan Juli suami saya sama saya, berangkat ke Malang sama anak-anak naik pesawat. Kalau (Munir) trauma, dia tentu nggak akan naik. Dia sudah biasa naik pesawat. Dan itu bukan hal baru bagi dia," sanggah janda Munir.Mengapa Munir diajak ke seat di kelas bisnis, inilah yang janggal dan masih belum jelas. Hal itu juga tidak lazim dalam maskapai penerbangan mana pun. Kemungkinan, menurut NOVA/NPS, agar Munir dapat lebih mudah dibunuh (dengan modus diracun), sebab pelayanan penumpang di kelas bisnis itu eksklusif. Jarak seat kelas bisnis juga berjauhan. Pollycarpus sendiri setelah itu tidak ikut terbang ke Amsterdam. Menurut surat resmi Garuda, dia saat itu ditugaskan sebagai Aviation & Internal Security. Namun NOVA/NPS menyebutkan, berdasarkan investigasi TPF Munir bentukan presiden SBY, ditemukan bukti bahwa surat tersebut dipalsu oleh Direksi Garuda. Surat itu tidak dibuat tanggal 4/9/2004 seperti tertera, namun baru beberapa hari kemudian. "Nomor surat dan tanggal surat itu jauh dibuat atau dibuat setelah kejadian, tapi diperlakukan mundur untuk tanggal sebelum peristiwa Munir dibunuh. Jadi ada beberapa kejanggalan dalam surat Garuda. Yang kedua adalah berkaitan dengan keterangan-keterangan yang diberikan direksi Garuda. Kita menemukan banyak sekali keterangan-keterangan yang saling bertentangan terhadap sebuah fakta yang sama. Sementara kita menyimpulkan bahwa pihak Garuda mengetahui aktivitas Pollycarpus berkaitan dengan terbunuhnya Munir ini," kata Munarman dari TPF kepada NOVA/NPS.Direksi Garuda sendiri tidak bersedia menanggapi soal di atas. Namun ada rekaman pernyataan Presiden Direktur Indra Setiawan pada pekan-pekan awal terbunuhnya Munir, yang menyebutkan bahwa direksi Garuda tidak bisa berbuat apa-apa jika dinas rahasia menggunakan pilot Garuda sebagai agen rahasia.Intinya, Setiawan menjelaskan bahwa Garuda milik pemerintah, pihaknya hanya sebagai pelaku manajemen. Jika pemerintah menaruh orang, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. "Pemerintah sebagai pemegang saham, sebagai negara yang punya aset di perusahaan... kalau memerlukan menaruh orang di situ misalnya... Kami manajemen. Kami bukan owner (pemilik). Saya... Kata-kata harus menerima (dinas rahasia) ya.. kami ini belum pernah menjalankan. Sampai saat ini kami belum pernah menerima pihak-pihak yang disebutkan tadi (personel dinas rahasia, red)," papar Setiawan, yang necis berjas dan memakai kacamata.Terkait surat dan posisi direksi Garuda, TPF Munir akan mengambil langkah dengan meminta presiden - selaku pemberi mandat - untuk menonaktifkan mereka. "Paling tidak yang akan kita usulkan kepada presiden, selaku pemberi mandat kepada TPF, kita meminta presiden memonaktifkan jajaran direksi Garuda. Setelah dinonaktifkan, baru kemudian tindakan-tindakan pro yustisia bisa kita sarankan kepada polisi untuk supaya pihak Garuda memberikan keterangan yang sebenarnya. Kita melihat ini bukan sebuah operasi oleh Garuda, tapi kita melihat Garuda digunakan oleh pihak-pihak di luar Garuda," kata Munarman dari TPF, sambil menyebutkan bahwa yang 'menggunakan' Garuda itu tidak tertutup kemungkinan juga dinas rahasia.Yang tidak wajar, demikian NOVA/NPS, Pollycarpus sebagai seorang pilot tiba-tiba menunjukkan perhatian dalam soal-soal HAM, seperti muncul begitu saja dari negeri antah-berantah. Polly tercatat menghubungi sekurangnya 3 aktivis HAM terkemuka, antara lain Hendardi, menjelang Munir berangkat ke Belanda. "Dia cukup intens menghubungi saya lewat HP dan setiap 3 hari atau 4 hari atau seminggu sekali ada telepon dari dia. Biasanya dia (bicara) cukup panjang lebar. Ya bukan bercerita saja. Ya mengulas tentang kondisi politik dan juga bertanya pendapat saya tentang kondisi politik aktual saat itu, sambil beberapa kali menanyakan kapan Pak Hendardi akan ke Papua. Saya sudah siapkan lho tiketnya, kira-kira begitu," papar Hendardi. Pria berkumis lebat ini menolak tawaran tiket gratis dari Polly.Menanggapi ini, Polly dengan mimik agak tegang mengatakan bahwa dia hanya pernah mengubungi Hendardi satu dua kali saja. Bukan sering. "Satu dua kali, bukan sering. Saya hanya sekadar apa kabar. Karena senang juga sih, bisa bicara dengan orang besar," tutur Polly, disusul tawanya yang hambar.Polly juga tidak mengakui bahwa percakapannya dengan Hendardi selalu menyangkut soal HAM dan politik aktual. "Saya tidak tahu politik, saya tidak tahu hukum, saya hanya kerja sosial," demikian Polly.Mendekatnya Polly ke lingkaran aktivis HAM yang memantik tanda tanya itu juga diperkuat Suci. Janda Munir itu menyebutkan bahwa sebelum berangkat, Munir mendapat telepon dari orang bernama Polly dari Garuda, yang menanyakan kapan Munir berangkat, karena Polly juga akan berangkat bersama. "Saya tidak telepon (memastikan keberangkatan Munir). Tidak. Itu aneh itu. Pasti," bantah Polly. Ketika ditanya bagaimana menurut pendapatnya, sehingga istri Munir sampai bercerita seperti itu, Polly mengaku tidak tahu-menahu. "Saya tidak tahu bagaimana itu ceritanya," sanggah Polly.Pernyataan siapa yang benar, mestinya ini bukan tugas yang pelik bagi aparat hukum untuk membereskannya. NOVA/NPS sendiri mendapatkan konfirmasi dari polisi bahwa Polly memang menelepon ke Munir. Polisi bahkan mendapati bahwa cerita Polly tidak konsisten dan berubah-ubah. Misalnya, dia dalam pemeriksaan di depan polisi mengaku bahwa dia tidur terus selama dalam perjalanan ke Singapura. Padahal saksi mata menuturkan bahwa Polly sibuk bolak-balik di pesawat.Keterangan Polly itu menurut nalar umum memang janggal, sebab perjalanan dari Jakarta ke Singapura cuma berkisar cuma satu jam. Selain itu, jika benar dia tidur terus selama perjalanan 1 jam tersebut, berarti dia tidak menjalankan tugasnya sebagai Aviation & Internal Security sebagaimana dinyatakan dalam surat resmi Garuda atau surat tersebut sekadar surat saja, tidak memiliki makna apa-apa.Nah, dalam rekonstruksi NOVA/NPS itu Polly punya versi cerita lain lagi. Dia mengaku selama perjalanan Jakarta-Singapura duduk saja di seat, sesekali ke toilet dan mengobrol dengan kawannya soal hobi mobil tua. Artinya dalam penerbangan sangat singkat itu dia tidak tidur.Berikut ini kutipan wawancara NOVA/NPS dengan Polly seputar penerbangan singkat Jakarta-Singapura.Anda tidak pernah memberi minum atau makanan kepada Munir?TidakJadi siapa?O, itu.. (lama berpikir) Ya, pasti eh.. (jeda berpikir lagi) stewardess (pramugari), ya. Pasti. Karena dia serving.Waktu itu Anda juga tidak pernah ke dapur?Tidak Anda duduk di kursi terus?Ya, sama di toilet (lavatory). Biasa. Itu di depan (kelas bisnis) juga ada teman, Teman juga dulu di Papua. Dia hobi mobil tua. Saya juga, lalu ngobrol soal mobil tua. You punya mobil bagaimana. Ah, saya tidak mau lagi bicara soal itu,"
(es/)











































