"Kenapa semua pelaku ditembak mati? Kenapa tidak dilumpuhkan saja supaya kemudian bisa diinterogasi?" tanya Salim dalam diskusi 'Mengapa Teror Jakarta Gagal Meneror Kita?' bersama Populi Center di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/1/2016).
Mantan Kepala Densus 88 Irjen (Purn) Bekto Suprapto langsung menjawab pertanyaan itu. Menurut dia, ada kondisi-kondisi di lapangan yang membuat anggota menembak mati teroris di tempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu perlu diketahui bahwa semua teroris sebetulnya sudah siap untuk mati. Mereka, kata Bekto, lebih memilih mati ketimbang diinterogasi.
"Pernah suatu ketika anak buah saya bertanya, jika ada teroris yang mendekat ke saya kemudian dia buka rompi untuk meledakkan diri, apa yang harus dilakukan? Saya jawab, tembak kepalanya," imbuh Bekto.
Sebetulnya anggota di lapangan tidak serta merta memutuskan untuk membunuh teroris. Sering kali penyebabnya adalah baku tembak, sehingga tembakan bisa langsung membunuh atau hanya melumpuhkan jika mengenai bagian tubuh tertentu saja.
Salim kemudian bertanya lagi, apakah mungkin ada pasukan khusus yang katakanlah penembak jitu hanya membawa senjata melumpuhkan?
"Dalam kondisi mendadak seperti kemarin, perlu waktu untuk mempersiapkan posisi penembak jitu. Kita harus apresiasi kepolisian kita karena dengan spontan langsung turun ke lapangan," kata Bekto. (bpn/ega)











































