Parno datang bersama kerabatnya yang juga anggota polisi ke area Instalasi Forensik sekitar pukul 23.30 WIB. Sambil membawa handphone dengan gambar foto yang diduga keponakannya, Parno berharap bisa mendapat kabar dari RS Polri.
"Ini fotonya yang mungkin keponakan saya. Soalnya dari giginya renggang, terus sama info pakai sweater merah, sepatu pantofel ya itu seperti Riko," kata Parno di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (14/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum ada Riko. Kalau di RSPAD baru Anggun, keponakan saya. Di RSCM nggak ada. Bapaknya (Ayah Riko, red) sudah ngecek ke Polda. Disuruh ngecek ke sini (RS Polri, red)," ujarnya.
Parno menceritakan saat pergi ke Thamrin, Riko membawa sepeda motor bebek Supra serta identitas kartu tanda penduduk (KTP). Tujuan Riko ke Thamrin karena mengantar sepupunya, Anggun yang ingin melamar pekerjaan di daerah pusat perkantoran tersebut.
Tapi, begitu sampai di Thamrin, Riko yang yang diduga tak punya surat izin mengemudi (SIM) ditilang polisi. Sambil menunggu proses tilang, Anggun duduk menepi menjauh dari pos polisi. Namun, tak disangka, saat itu ada ledakan bom.
"Ceritanya Anggun tadi begitu. Kalau Anggun kaki kanannya yang parah. Dia juga pakai helm, enggak papa, duduknya menjauh dari pospol. Nah, Riko ini yang enggak ada kabarnya. Ditelpon juga enggak bisa," tutur warga Kampung Tengah, Kramatjati itu dengan nada cemas.
Sementara, hingga sekarang, pihak kepolisian belum merilis identitas nama orang yang merupakan korban dan pelaku peledakan di Thamrin. Diketahui, ada 7 jenazah di RS Polri yang masih proses identifikasi dengan rincian 6 WNI serta 1 WNA.
(hat/dhn)











































