"Saya gabung di Gafatar sejak 2012 sampai 2015, ketika dibubarkan bulan Agustus," ujar Yudhis kepada detikcom melalui telepon, Rabu (13/1/2016).
Soal alasan pembubaran, Yudhis mengaku hanya mengikuti pembubaran Gafatar pusat yang ada di Jakarta. Sedangkan tentang pola rekrutmennya, menurutnya semua berjalan biasa.
"Ya seperti biasa. Kami bukan ngajak-ngajak, orang-orang ngisi formulir sendiri. Bebas," imbuhnya.
Yudhis mengatakan tak ada kegiatan bersifat keagamaan di dalam organisasi tersebut. Melainkan lebih fokus kepada aksi sosial. Anggotanya beragam dari sisi usia maupun agama.
"Misalnya donor darah, bersih-bersih kampung, mengajar Bahasa Inggris. Anggotanya variasi ada tua dan muda," kata Yudhis.
Lalu soal masih adanya kegiatan setelah Agustus 2015, dia mengaku tak mengetahuinya. Setelah tak lagi aktif di Gafatar, Yudhis kini sibuk dengan berbagai kegiatan berhubungan dengan profesinya sebagai advokat.
"Gafatar yang mana, sudah bubar. Saya nggak bisa tahu lagi. Saya sudah bukan Gafatar," imbuhnya. (sip/trw)











































