Fahri: Yang Laporkan Saya ke BPDO dari DPP PKS

Fahri: Yang Laporkan Saya ke BPDO dari DPP PKS

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 12 Jan 2016 18:01 WIB
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Fahri Hamzah diminta mundur dari kursi Wakil Ketua DPR oleh elite PKS. Permintaan mundur itu disertai laporan kepada Badan Penegak Dispilin Organisasi (BPDO) PKS.

"Memang saya dilaporan ke BPDO, yang unik adalah pelapornya saya nggak tahu, tapi DPP. Tapi nggak ada suratnya dan tidak tahu alat bukti yang dipegang," ungkap Fahri di Gedung DPR, Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (11/1/2016).

Fahri mengungkap soal desakan mundur yang diterimanya pada Minggu (10/1) lalu. Dalam keterangannya, Fahri menyebut empat nama yang memintanya mundur, yaitu Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua DPP Al Muzzammil Yusuf, Wasekjen Mardani Ali Sera, dan Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Aljufri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BPDO akhirnya memanggil Fahri pada Senin (11/1) kemarin malam. Fahri awalnya diberi tahu bahwa panggilan dari BPDO dalam rangka evaluasi internal kader PKS. Namun ternyata panggilan itu didasari pada laporan. Fahri pun marah.

"Ketika ketemu BPDO, tidak ada evaluasi. Sementara beberapa pihak sudah bicara soal evaluasi sejak tanggal 21 Desember. Padahal saya dipanggil BPDO pertama tanggal 4 Januari saya di Kuala Lumpur sementara dua pekan sebelumnya sudah diisukan adanya evaluasi," jelas Fahri.

"Itu kan semacam penggiringan supaya seolah-olah saya ada proses untuk diganti padahal panggilan BPDO itu laporan kasus dan dianggapnya kasus tidak disiplin," sambungnya.

Sebenarnya pemanggilan dari BPDO ini disebut Fahri berawal dari pertemuannya dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri yang meminta dia mundur dari pimpinan DPR. Namun perihal itu, Fahri sudah bertemu langsung dan berdiskusi dengan Salim Segaf. Permasalahan pun selesai.

"Itu diskusi pribadi dan beliau minta diskusi itu tidak disampaikan ke mana-mana. Tapi kok diskusi itu jadi bahan pemeriksaan dan gerilya orang-orang karena dalam diskusi itu saya jelaskan kedudukan kelembagaan negara," beber Fahri.

"Saya diskusi dengan beliau, saya ceritakan konstelasinya dan beliau bisa mengerti. Ada SMSnya, clear. Bahkan ketika cerita konstelasi, beliau malah jadi takut," imbuh dia.

Diskusi tersebut akhirnya membuat Salim Segaf kembali menarik pernyataannya yang meminta Fahri mundur dari pimpinan DPR. Namun ternyata isu ini yang kembali dimainkan.

"Tapi di belakang itu masih ada yang kerja karena itu saya laporkan Muzzammil dan Mardani karena mereka tambah informasi bahwa kader minta saya dicopot," tukas Fahri.

Indikasi upaya pelengseran dirinya dari kursi wakil DPR membuat Fahri geram. Maka itu ia terus melawan karena merasa tidak melakukan kesalahan.

"Kalau baca aturan kerja BPDO, presumption of innocent. Nggak boleh orang dianggap salah. Bahasa-bahasa kekuasaan itu membuat anak-anak muda kayak saya di PKS sebal. Kenapa gunakan kekuasaan. Saya cuma mau dikasih tahu salah saya apa," tutup Sekretaris Harian KMP tersebut.

(elz/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads