Orang Hilang Direkrut Gafatar

Kisah Bibit Tentang Keanehan Ajaran Gafatar: Tidak Salat dan Ada Messiah

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Selasa, 12 Jan 2016 10:07 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Bibit Samad Riyanto, mantan pimpinan KPK sudah mundur dari Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Dia mengaku tertipu saat menerima posisi Ketua Dewan Pembina Gafatar pada 2013.

"Jadi mereka deketin aku dan aku sih nggak pernah suudzon. Saya lihat mereka bagus kegiatan sosialnya, saya mau saja," jelas Bibit berbagi pengalamannya, Senin (12/1/2016).

Waktu berjalan, Bibit mulai melihat ada keanehan. Tapi, dia tetap berjalan seperti biasa, memberi ceramah tentang korupsi dan mengulas pancasila.

"Aku kan saat keluar KPK ingin membentuk organisasi yang memerangi korupsi, dan aku pikir ini bisa sesuai. Tapi ternyata tidak, mereka nggak peduli dengan korupsi," jelas Bibit.

Apalagi, saat memberikan ceramah di Makassar, dia mendengar Gafatar ditolak FPI karena disebut sebagai aliran menyimpang.

"Ya saat aku tanya, mereka memang tidak salat. Karena ada messiah. Ada nabi setelah Muhammad. Wah nggak bener ini, akhirnya aku meminta bertemu pemimpinnya," jelasnya.

Bibit kemudian dipertemukan dengan pemimpinnya bernama Moshadeq di Ciputat pada 2014. Saat itu dia langsung mundur, apalagi saat itu Moshadeq mengaku sebagai messiah.

"Aku nasihati mereka, mereka akan berhadapan dengan masyarakat," tegas Bibit yang kemudian menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Cerita soal Gafatar, organisasi ini membungkus rapi kegiatannya dengan memberikan kursus kesehatan, kerja bakti, bakti sosial kesehatan, donor darah dan lainnya. Namun setelah pengikut terjaring dimulailah program cuci otak dengan mengajak keanggotaan ini.

"Pendanaan mereka dari mana mereka nggak mau terbuka, hanya disebut dari iuran anggota. Mereka sudah punya cabang di 18 provinsi," terang Bibit.

"Mereka menyebarkan ajaran agama secara sembunyi, berbalut kegiatan sosial. Aku tertipu," tutup Bibit. (dra/dra)